Andalkan Dana Global Fund dan APBD, Pangkalpinang Optimis Eliminasi ATM di 2030
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 15 Sep 2026
- visibility 77
- comment 0 komentar

Andalkan Dana Global Fund dan APBD, Pangkalpinang Optimis Eliminasi ATM di 2030
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Pemerintah Kota Pangkalpinang optimis dapat mencapai target eliminasi penyakit menular pada tahun 2030 mendatang. Langkah ini ditempuh dengan mengandalkan dukungan dana internasional dari Global Fund serta memperkuat alokasi APBD hingga ke tingkat anggaran kelurahan.
Hal tersebut diungkapkan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdako Pangkalpinang, Agustu Afendi, dalam Pertemuan Penguatan Forum Kemitraan untuk Pencegahan dan Pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria (PP ATM) yang digelar di Sun Hotel Pangkalpinang, Selasa (15/9/2026).
Agustu menegaskan bahwa perang melawan AIDS, TBC, dan Malaria tidak bisa hanya bertumpu pada sektor kesehatan. Diperlukan keterlibatan aktif dari seluruh pemangku kepentingan agar rantai penularan dapat diputus secara efektif.
Menurutnya, dukungan lintas sektor menjadi kunci utama dalam memastikan seluruh tahapan, mulai dari pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pendampingan pasien berjalan optimal di lapangan.
Agustu juga memaparkan besarnya dukungan internasional dalam agenda ini. Sejauh ini, sokongan dana dari Global Fund untuk Indonesia telah menembus angka 1,4 miliar dolar AS atau setara dengan Rp20,89 triliun. Dana segar tersebut dialokasikan melalui Kementerian Kesehatan dan berbagai organisasi non-pemerintah demi menyokong program penanggulangan penyakit menular.
“Melalui pendanaan Global Fund ini, lebih dari 20 juta jiwa telah terselamatkan, termasuk 10 juta jiwa di kawasan Indo-Pasifik. Global Fund juga telah mencegah 145 juta infeksi baru sejak tahun 2012,” kata Agustu.
Ia merincikan, dana hibah tersebut dimanfaatkan secara luas untuk memperluas akses obat-obatan, penyediaan alat diagnostik, layanan konseling, peningkatan kapasitas tenaga medis, hingga membangun sistem kesehatan daerah yang tangguh dan berkelanjutan.
Meski mendapat dukungan anggaran yang besar, Agustu tidak menampik bahwa tantangan di tingkat nasional maupun daerah masih sangat berat. Indonesia saat ini masih mengemas beban kasus TBC yang sangat tinggi, dengan estimasi mencapai 1,09 juta kasus dan angka kematian menyentuh 125 ribu jiwa per tahun.
Sementara untuk kasus HIV/AIDS, diperkirakan ada 28 ribu infeksi baru setiap tahunnya, dengan total orang yang hidup dengan HIV (ODHIV) di Indonesia kini berada di angka kisaran 570 ribu orang. Khusus untuk HIV/AIDS, Agustu menyoroti tebalnya tembok stigma sosial yang mempersulit pelacakan kasus.
“HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan sedikit, tetapi di bawahnya sangat banyak karena masih ada stigma dan rasa malu dari penderita untuk melapor. Ini yang perlu kita antisipasi,” tegasnya.
Guna mendobrak sumbatan tersebut, Pemkot Pangkalpinang kini mendorong penguatan peran kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan pelayanan. Sinergi ini nantinya wajib melibatkan organisasi kemasyarakatan, kelembagaan lokal seperti PKK Pokja IV, serta Komisi Penanggulangan AIDS (KPA). Langkah taktis ini sejalan dengan target besar Pemerintah Indonesia untuk mencapai eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada tahun 2030.
Agustu berharap pertemuan di Sun Hotel ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial atau forum koordinasi di atas kertas. Ia menuntut adanya output konkret berupa perumusan komitmen bersama yang nantinya akan diserahkan langsung kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) dan Wali Kota Pangkalpinang. Hal ini krusial agar intervensi program ATM mendapatkan porsi anggaran yang kuat dan jelas di tingkat kelurahan dan kecamatan.
“Marilah kita bekerja sama, saling bergandengan tangan untuk mengoptimalkan peran dan kontribusi dalam menuntaskan kasus AIDS, TBC, dan Malaria menuju eliminasi tahun 2030,” pungkas Agustu.
- Penulis: admin


