Harga Emas Kembali Meroket, Ketegangan Tarif AS Dorong Permintaan Safe Haven
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 16 Apr 2025
- visibility 212
- comment 0 komentar

Harga Emas Kembali Meroket, Ketegangan Tarif AS Dorong Permintaan Safe Haven
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Harga emas kembali mencetak rekor tertinggi sepanjang masa setelah sempat melemah pada awal pekan. Ketidakpastian terkait rencana tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendorong investor memburu aset safe haven seperti emas.
Pada perdagangan kemarin, Selasa (15/4/2025), harga emas di pasar spot melonjak 0,58% dan ditutup di level US$3.227,61 per troy ons. Kenaikan ini menghapus penurunan yang terjadi pada awal pekan dan sekaligus menandai harga penutupan tertinggi dalam sejarah.
Tren penguatan berlanjut pada perdagangan hari ini, Rabu (16/4/2025). Hingga pukul 11.03 WIB, harga emas dunia naik ke level US$3.283,08 per troy ons.
Pergerakan harga dalam tiga hari terakhir terbilang sangat fluktuatif. Setelah menguat hampir 2% pada Jumat lalu, harga emas terkoreksi 0,83% pada Senin lusa kemarin, sebelum akhirnya kembali menguat pada esok harinya.
Analis senior Kitco Metals, Jim Wyckoff, menjelaskan bahwa ketidakpastian tarif dari Donald Trump meningkatkan minat terhadap emas sebagai aset aman.
“Pelaku pasar kini sedang menunggu perkembangan fundamental utama berikutnya untuk mendorong pasar emas, tetapi grafik emas tetap bullish. Masih ada permintaan safe haven,” ujar Jim, seperti dilansir dari CNBC.
Lonjakan harga emas ini tak lepas dari langkah pemerintah AS yang mempercepat penyelidikan terhadap impor farmasi dan semikonduktor, sebagaimana tertuang dalam dokumen Federal Register yang dirilis Senin lalu.
Presiden AS, Donald Trump menyatakan pada Minggu lalu, bahwa ia akan mengumumkan tarif baru atas impor semikonduktor di pekan ini.
Emas, yang dikenal sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi, telah menguat lebih dari 23% sejak awal tahun 2025. Lonjakan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi global.
Sementara itu, Commerzbank dalam laporannya menyebutkan, “Kenaikan harga emas juga sebagian sejalan dengan melemahnya dolar yang terus berlanjut, yang menunjukkan erosi bertahap status mata uang AS sebagai aset yang aman. Emas kemungkinan akan menjadi alternatif bagi banyak investor US$.”
Selain itu, bank tersebut juga menambahkan, “Prospek kebijakan moneter jangka pendek memberikan dukungan lebih lanjut untuk emas.”
Dolar AS kini mendekati posisi terendah tiga tahun terhadap mata uang utama dunia lainnya. Kondisi ini membuat harga emas relatif lebih murah bagi investor yang memegang mata uang selain dolar.
Pasar kini memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga sebesar 100 basis poin hingga akhir tahun, setelah sebelumnya menahan suku bunga pada Januari.
Fokus investor saat ini tertuju pada pidato Ketua The Fed Jerome Powell yang dijadwalkan berlangsung Rabu ini, sebagai petunjuk arah kebijakan moneter selanjutnya.
- Penulis: admin


