Gangguan Mental Jemaah Haji Gelombang I Melonjak, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 15 Mei 2025
- visibility 91
- comment 0 komentar

Lonjakan Gangguan Mental di Kalangan Jemaah Haji Gelombang I, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah mencatat lonjakan kasus gangguan kejiwaan di kalangan jemaah haji gelombang pertama sejak kedatangan mereka awal Mei lalu. Meski penyakit fisik seperti gangguan jantung, hipertensi, dan diabetes masih dominan, kasus stres akut dan gangguan penyesuaian diri justru menjadi sorotan baru di musim haji tahun ini.
Dokter spesialis kedokteran jiwa di KKHI Madinah, Kusufia Mirantri, mengungkapkan bahwa perubahan lingkungan yang drastis, tekanan fisik selama perjalanan, kelelahan, hingga perpisahan dari keluarga menjadi pemicu utama tekanan psikologis yang dialami jemaah.
“Banyak jemaah, terutama lansia atau mereka yang memang punya kerentanan sebelumnya, mengalami kesulitan beradaptasi. Stres dan gangguan penyesuaian ini bisa muncul dalam bentuk gangguan tidur, kecemasan berlebih, hingga gejala psikosomatis,” kata Kusufia, yang akrab disapa dr. Upi, saat dikutip dari Sehat Negeriku, Rabu (14/5/2025).
Ia menegaskan bahwa deteksi dini terhadap gangguan kejiwaan sangat penting agar tidak mengganggu kekhusyukan ibadah jemaah. Dukungan dari sesama jemaah, keluarga, maupun pendamping sangat dibutuhkan untuk mengenali gejala awal dan mengambil langkah cepat.
Dokter Upi menjelaskan bahwa terdapat beberapa indikator yang patut diwaspadai. Salah satunya adalah perubahan perilaku secara mencolok.
“Coba perhatikan, jika ada jemaah yang biasanya ceria dan mudah bergaul tiba-tiba menjadi mudah tersinggung, atau sebaliknya, menarik diri secara ekstrem, lebih suka menyendiri, dan enggan berinteraksi dengan orang lain,” jelasnya.
Tanda berikutnya adalah gangguan tidur. “Kesulitan tidur yang persisten, seperti sulit memulai tidur, sering terbangun di malam hari, atau merasa tidak segar setelah tidur, bisa menjadi pertanda tekanan mental. Kurang tidur dapat memperburuk kondisi emosional dan kognitif jamaah,” lanjut Upi.
Ia juga menyoroti kecemasan berlebihan sebagai gejala serius. “Merasa sedikit cemas di lingkungan baru itu wajar. Tapi kalau sudah takut keluar kamar, takut ke masjid meskipun ditemani, atau panik berlebihan saat di keramaian, ini perlu perhatian khusus.”
Selain itu, disorientasi atau kebingungan terhadap tempat, waktu, dan orang menjadi gejala lain yang sering dijumpai. “Mereka bisa jadi tidak tahu sedang berada di mana, lupa hari atau tanggal, bahkan kesulitan mengenali teman serombongan atau pendampingnya,” ujar Upi.
Gejala terakhir yang kerap muncul adalah perubahan suasana hati secara ekstrem dan tiba-tiba. “Seorang jemaah bisa saja mendadak sangat sedih, menangis tanpa sebab jelas, atau sebaliknya mudah marah karena hal sepele, padahal sebelumnya terlihat biasa saja.”
Dokter Upi mengimbau agar sesama jemaah atau pendamping tidak langsung mendiagnosis sendiri jika melihat tanda-tanda tersebut. Sebaliknya, mereka diminta untuk mendekati jemaah dengan empati, mendengarkan keluhan mereka, dan membantu proses adaptasi.
“Misalnya, bantu mereka memahami cara menggunakan fasilitas seperti kamar mandi atau lift. Dan yang paling penting, jangan ragu melaporkan ke ketua rombongan atau Tenaga Kesehatan Haji Kloter (TKHK). Mereka yang paling kompeten menilai dan memberikan intervensi, termasuk merujuk ke KKHI jika diperlukan,” tegasnya.
- Penulis: admin


