Harga Timah Naik, PT TIMAH Tbk Catat Laba Bersih Rp116,86 Miliar di Kuartal I 2025
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 1 Mei 2025
- visibility 69
- comment 0 komentar

Harga Timah Naik, PT TIMAH Tbk Catat Laba Bersih Rp116,86 Miliar di Kuartal I 2025
DOORSTOP.ID, JAKARTA — PT TIMAH Tbk (IDX: TINS) berhasil mencatatkan kinerja keuangan yang solid di tengah fluktuasi harga global dan tantangan operasional.
Dalam laporan keuangan konsolidasian yang dirilis Kamis (1/5/2025) hari ini, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp116,86 miliar pada kuartal I 2025 atau melampaui 120% dari target Rp97,46 miliar.
Kenaikan laba ini didorong oleh melonjaknya harga rata-rata logam timah dunia yang mencapai USD31.804,37 per metrik ton, naik 21,2% dibanding periode sama tahun lalu. Di sisi lain, pasokan global mengalami tekanan akibat gangguan produksi di Indonesia, Myanmar, dan Republik Demokratik Kongo. Di tengah situasi tersebut, permintaan tetap tinggi terutama dari sektor elektronik dan kendaraan listrik.
“Perseroan terus berupaya dalam meningkatkan kinerja keuangan melalui optimalisasi dan efisiensi berkelanjutan di seluruh lini bisnis, termasuk efisiensi biaya bunga dengan menurunkan interest bearing debt dan optimalisasi pengelolaan arus kas perusahaan,” ujar Fina Eliani, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT TIMAH Tbk.
Dari sisi pendapatan, PT TIMAH Tbk mencatatkan kenaikan tipis sebesar 2,1% menjadi Rp2,10 triliun, seiring meningkatnya harga jual rata-rata logam timah yang mencapai USD32.495 per metrik ton. Meski begitu, volume penjualan turun 18% menjadi 2.874 metrik ton, sejalan dengan penurunan produksi.
Perseroan hanya mampu memproduksi 3.215 ton bijih timah, turun 40% dibandingkan kuartal I 2024 yang mencapai 5.360 ton. Produksi logam timah juga turun 31% menjadi 3.095 ton. Penurunan ini disebabkan oleh belum optimalnya aktivitas tambang, cuaca buruk akibat angin utara, terbatasnya cadangan aktif (spotted reserves), serta maraknya aktivitas penambangan ilegal.
Untuk mengatasi kendala tersebut, PT TIMAH Tbk melakukan berbagai langkah perbaikan. Di tambang darat, perusahaan menambah jumlah titik tambang dan mengoptimalkan pengeboran terarah. Sementara untuk tambang laut, efisiensi Kapal Isap Produksi (KIP), pengolahan sisa hasil produksi, serta penggunaan kapal bor di beberapa area seperti Bangka Utara, Bangka Selatan, dan Kundur menjadi strategi utama.
Dari sisi pasar, perusahaan menjual 91% logam timah ke luar negeri dengan enam negara tujuan utama yakni Korea Selatan (19%), Jepang (19%), Singapura (14%), Belanda (11%), India (2%), dan China (1%).
Sementara itu, dari sisi neraca keuangan, total aset perusahaan turun 2% menjadi Rp12,49 triliun, namun liabilitas menurun lebih signifikan sebesar 9% menjadi Rp4,85 triliun. Penurunan ini berasal dari pelunasan pinjaman jangka pendek dan pembelian kembali seluruh medium term notes. Ekuitas perseroan naik menjadi Rp7,64 triliun, meningkat 3% dari akhir 2024.
Berbagai indikator keuangan utama juga mencerminkan kondisi sehat, dengan Quick Ratio sebesar 66,1%, Current Ratio 238,7%, Debt to Asset Ratio 38,8%, dan Debt to Equity Ratio 63,5%.
Ke depan, PT TIMAH Tbk optimistis menghadapi tahun 2025. Harga timah diperkirakan tetap tinggi, didorong oleh pertumbuhan industri elektronik, semikonduktor, dan adopsi kecerdasan buatan. Perusahaan menargetkan produksi bijih timah sebesar 21.500 ton, produksi logam timah 21.545 ton, dan penjualan 19.065 ton.
Untuk mencapai sasaran tersebut, strategi utama yang dijalankan mencakup penguatan pengelolaan cadangan, kepemimpinan pasar, hilirisasi industri melalui pengembangan kendaraan listrik, transformasi proses bisnis, serta pengembangan Center of Excellence.
Sumber: www.timah.com
- Penulis: admin


