Mengenal Molten Salt Reactors, Teknologi PLTN yang Aman dan Ekonomis
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 25 Feb 2026
- visibility 96
- comment 0 komentar

MSR Merupakan Bagian dari Reaktor Nuklir Generasi IV yang Miliki Sejumlah Keunggulan
DOORSTOP.ID, JAKARTA – Energi nuklir melalui Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dinilai sebagai salah satu sumber energi baru yang ramah lingkungan, beremisi rendah, serta mampu menjawab kebutuhan listrik yang terus meningkat.
BRIN melalui ORTN terus melakukan riset dan pengembangan teknologi nuklir untuk mendukung pengembangan PLTN di Indonesia.
Salah satu teknologi yang tengah dikembangkan adalah Molten Salt Reactors (MSR). Jenis reaktor ini dinilai aman dan ekonomis untuk diterapkan di Indonesia.
Plt Kepala Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir ORTN BRIN, Topan Setiadipura, menjelaskan bahwa MSR merupakan bagian dari reaktor nuklir generasi IV yang memiliki sejumlah keunggulan.
“PLTN generasi ke-IV ini sangat ekonomis, tingkat keselamatan tinggi, limbah nuklir minimal dan ketahanan proliferasi. Empat hal ini yang menjadi ciri khas reaktor generasi ke-IV, salah satunya adalah MSR,” ujar Topan dalam Webinar (IATKI) Engineering Lecture (IEL)-33 bertema Nuclear Energy, seperti dilansir dari laman BRIN.
Berbeda dengan kebanyakan reaktor yang menggunakan uranium sebagai bahan bakar, MSR memanfaatkan torium sebagai bahan bakar utama.
Menurut Topan, MSR termasuk reaktor generasi IV yang paling menjanjikan karena menggunakan liquid salt dan dapat beroperasi pada tekanan tinggi maupun rendah.
“MSR keselamatannya secara umum disebutkan tidak bergantung listrik. Maksudnya, ketika listrik tidak ada seperti yang terjadi di reaktornya secara mandiri bisa menyelamatkan dirinya, istilahnya passive safety feature,” kata dia.
Topan menambahkan, keberadaan PLTN dapat menjadi pemacu perkembangan sektor lain, seperti industri dan pendidikan.
Namun, kata Topan, dalam mewujudkan MSR terdapat tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam aspek desain dan realisasi teknologi reaktor generasi IV.
“Pada umumnya reaktor generasi ke-IV memiliki tantangan dalam mewujudkan konsep desainnya. Mengapa kita tampilkan tantangannya, agar kita dapat berkolaborasi bersama dan mengatasi masalah serta tantangan tersebut sehingga menghasilkan kesuksesan,” ujarnya.
Dalam pengembangannya, kata Topan, BRIN telah bekerja sama dengan untuk melaksanakan riset dan inovasi di bidang ketenaganukliran, khususnya teknologi Thorium MSR.
Kerja sama tersebut, lanjut dia, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara kedua pihak.
“BRIN dan PT Thorchon Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman. Maksud dan tujuannya, yaitu melaksanakan litbang dan inovasi di bidang ketenaganukliran, khususnya teknologi Thorium MSR. Riset dan pengembangan ini diharapkan dapat menghasilkan prototipe sebagai kandidat teknologi masa depan PLTN,” ungkap Topan.
Sementara itu, Anggota Dewan Pakar , Arnold Soetrisnanto, menjelaskan bahwa potensi torium sebenarnya lebih besar dibandingkan uranium. Namun, dalam praktiknya uranium lebih banyak dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTN.
Arnold mengatakan, PLTN thorium sebenarnya pernah dikembangkan, tetapi kemudian ditinggalkan karena tidak populer.
Hal tersebut, kata Arnold, tidak terlepas dari dinamika politik global pada era 1950–1960-an saat Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet.
“PLTN torium sudah pernah dibuat, tetapi tidak populer dan tidak disukai, sehingga ditinggalkan. Era tahun 50-60-an saat Perang Dingin antara Uni Soviet dan Amerika, perlombaannya tidak hanya di teknologi PLTN, namun juga penggunaan nuklir untuk senjata, yaitu plutonium. Uranium lebih populer karena uranium menghasilkan plutonium, dan plutonium ini dipisahkan lalu digunakan untuk senjata nuklir,” jelas Arnold.
Ia menambahkan, reaksi fisi thorium tidak menghasilkan plutonium sehingga dinilai lebih aman dan memiliki potensi lebih besar dibandingkan uranium, terlebih Indonesia menganut politik luar negeri yang damai.
Arnold juga menyampaikan bahwa perusahaan Thorcon telah mengembangkan PLTN torium dengan basic design di Amerika Serikat dan berencana mengembangkan lebih lanjut melalui kerja sama dengan Indonesia. Thorcon dan BRIN bekerja sama untuk membuat prototipe MSR pertama.
“Satu-satunya saat ini perusahaan yang sudah masuk dan membuka cabang di Indonesia dan rencananya akan melakukan investasi ke Indonesia adalah Thorcon, yang membawa teknologi MSR dengan thorium energy-nya,” pungkas Arnold. (*)
- Penulis: admin


