Menyusuri Jejak Toponimi Kampung Melintang di Pangkalpinang
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 24 Agu 2025
- visibility 122
- comment 0 komentar

Menyusuri Jejak Toponimi Kampung Melintang di Pangkalpinang
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP — Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
Dalam sejarah sebuah kota, toponimi atau penamaan tempat selalu menyimpan cerita. Nama bukan sekadar sebutan, tetapi jejak yang merekam kondisi geografis, budaya, bahkan pola hidup masyarakat pada masanya. Begitu pula dengan Kampung Melintang di Pangkalpinang, yang keunikannya tercatat dalam peta kolonial Belanda tahun 1928–1929.
Dalam arsip Res. Bangka en Onderh. Opgenomen door den Topografischen Dienst (Blad 34/XXV d, KK 083-04-01/085-04-10/087-05978-086), yang kini tersimpan di koleksi digital Universitas Leiden, nama Kampung Melintang muncul sebagai salah satu pemukiman di Distrik Pangkalpinang. Nama ini jelas berbeda dibanding toponimi kampung lain di sekitarnya.
Mengapa disebut Melintang?
“Diberikan toponimi Melintang karena berdasarkan letak geografisnya, kampung atau permukiman penduduk dibangun di kiri dan kanan jalan. Letaknya melintang, tidak sejajar dengan jalan utama atau Verharde Weg yang sudah ada lebih dulu,” jelas Dato’ Akhmad Elvian.
Jalan utama yang dimaksud adalah jalur penting di masa itu. Dari pusat Kota Pangkalpinang, jalan tersebut mengarah ke Kampung Sinarboelan hingga Mentok di utara. Sementara ke arah selatan, jalur ini terhubung dengan Kampung Jelutung dan kampung-kampung di Distrik Sungaiselan.
Peta Belanda juga menggambarkan batas-batas geografis Kampung Melintang pada masa kolonial. Di sisi utara, kampung ini berbatasan dengan jalan verharde weg dari Pangkalpinang menuju Sinarboelan. Sisi selatan bersentuhan dengan Kampung Jelutung. Di sebelah timur terdapat Kampung Kerkhof yang dikenal karena adanya Christen Kerkhof (makam Kristen) dan sebuah langgar yang kini telah menjadi Masjid Al-Badar. Sementara itu, sisi barat masih berupa hamparan kebun sahang atau lada (regelmatig aangelegde pepertuinen).
Kehidupan warganya kala itu masih sederhana.
“Rumah-rumah penduduk umumnya terbuat dari kayu dan bambu, sebagaimana dicatat dalam peta Belanda sebagai gebouwen of huizen,” tambah Dato’ Akhmad Elvian.
Yang menarik, nama Kampung Melintang ternyata tidak hanya ada di Pangkalpinang. Dato’ Akhmad Elvian mencatat, di Malaysia pun terdapat toponimi serupa.
“Kampung Melintang juga menjadi toponimi satu desa di Kuala Terengganu, negara bagian Terengganu Darul Iman, Malaysia timur. Daerah ini berbatasan dengan Kelantan di utara, Pahang di barat dan selatan, serta Laut Cina Selatan di timur,” terangnya.
Fenomena kesamaan nama ini mengindikasikan adanya pola penamaan yang mungkin berangkat dari kesamaan kondisi geografis atau tata ruang. Di satu sisi, hal ini membuka peluang penelitian lebih lanjut tentang hubungan toponimi antarwilayah di Asia Tenggara.
Sejarah sebuah kampung, sebagaimana Kampung Melintang, menunjukkan bahwa setiap nama menyimpan makna. Toponimi tidak hanya menandai lokasi di peta, tetapi juga menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat menata ruang, membangun rumah, hingga beradaptasi dengan alam dan jalan yang membelah kehidupan mereka.
- Penulis: admin


