Pasar Cinde Kian Suram: Ikon Palembang Terbengkalai, Harapan Pedagang Kian Redup
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 23 Apr 2025
- visibility 119
- comment 0 komentar

Pasar Cinde Kian Suram: Ikon Palembang Terbengkalai, Harapan Pedagang Kian Redup
DOORSTOP.ID, PALEMBANG — Suasana Pasar Cinde tak lagi menggeliat sejak proyek revitalisasi yang dimulai pada 2018 lalu berhenti total. Pembangunan yang digadang-gadang mencakup pusat perkantoran dan apartemen 12 lantai itu tak kunjung selesai. Kini, kontraktor dan petugas keamanan yang sebelumnya mondar-mandir di lokasi sudah lama tak tampak.
Pintu masuk utama kini tergembok dari dalam, tak ada lagi suara mesin berat atau aktivitas konstruksi. Sejak Pemerintah Provinsi Sumsel mencabut kontrak pada 2022, kawasan tersebut benar-benar ditinggalkan.
“Sudah tidak ada yang jaga. Pembangunan juga sudah lama tidak dilanjutkan. Aktivitas seperti biasa, pedagang berjualan di lapak-lapak relokasi,” kata seorang petugas parkir di lokasi, Selasa (22/4/2025).
1. Pasar Cinde Diselimuti Semak dan Akar
Pagar seng yang mengelilingi proyek tak terawat, sebagian sudah miring dan nyaris roboh. Air menggenang di jalur pejalan kaki karena saluran air yang tersumbat, menambah kesan kumuh.
Akses ke dalam pasar kini terbuka lebar akibat pagar yang rusak. Dulu, pengunjung harus berizin untuk masuk ke dalam area proyek. Kini, siapa pun bisa leluasa melongok ke dalam dan menyaksikan kondisi bangunan yang menyedihkan.
Kontraktor sempat membangun belasan kios beton di lantai dasar, namun pengerjaan hanya sebagian. Dari rencana membangun 1.500 kios, baru sedikit yang terealisasi.
Saat menelusuri lebih dalam, bangunan tersebut nyaris tak terlihat akibat semak belukar yang tumbuh liar. Akar-akar pohon menjalar, menutupi hampir seluruh area pasar.
“Kalau mau masuk bisa lewat depan, di situ ada yang jaga. Tapi kalau gak mau lewat atas, bisa lewat samping. Ada seng yang rusak, bisa tembus ke dalam di dekat pedagang ikan,” terang Nita, seorang pedagang, sambil menunjuk lokasi pagar berlubang.
2. Ikon Tiang Cendawan Dibiarkan Terlilit Tanaman
Bangunan lama Pasar Cinde masih berdiri, menyisakan tiang-tiang Cendawan yang ikonik. Dari belasan, hanya beberapa tiang bagian depan yang masih dipertahankan. Tiang berbentuk unik ini hanya ada dua di Indonesia: Pasar Johar Semarang dan Pasar Cinde Palembang.
Tiang Cendawan adalah teknologi arsitektur warisan abad ke-20. Pasar Cinde sendiri dibangun pada 1957-1958 oleh arsitek Abikusno Tjokrosuyoso, asisten dari Thomas Karsten, perancang Pasar Johar.
Kini, tiang-tiang bersejarah itu nyaris tak terlihat. Tanaman rambat dan semak belukar menutupinya, sementara dinding pasar dihiasi lumut dan retakan.
Nita mengaku pasrah dengan kondisi pasar. Ia dan pedagang lain sudah lelah menunggu pembangunan yang tak kunjung selesai.
“Dengan berjualan di lapak sementara ini, konsumen jadi malas datang ke pasar. Sekarang tak seramai dulu (sebelum dibongkar), tapi masih ada yang datang untuk berbelanja,” tuturnya.
3. Pasar Cinde Berubah Jadi Kolam Retensi
Memasuki bagian tengah bangunan, genangan air setinggi 1 hingga 2 meter menyambut mata. Warna air yang kehijauan bak danau buatan menjadi pemandangan sehari-hari.
Pasak beton yang dulu dipasang untuk pondasi nyaris tenggelam. Seekor bebek bahkan terlihat berenang dengan santainya di “kolam dadakan” tersebut. Tak satu pun pedagang berani masuk. Mereka hanya bisa menatap dari kejauhan.
“Sudah lama tidak ada aktivitas di dalam, cuma jadi kolam besar saja. Tiap hujan tambah parah, airnya tidak surut-surut,” ujar Nita.
Pedagang hanya bisa berharap. Banyak dari mereka yang sudah melunasi pembayaran untuk kios yang dijanjikan. Tapi realisasi tak kunjung datang.
“Harapannya segera dibangun, jangan biarkan pedagang pasar menunggu tanpa kejelasan,” katanya.
4. Warga Resah, Pasar Cinde Disulap Jadi Rawa
Arman, warga sekitar Pasar Cinde, menyayangkan kondisi pasar yang semakin memprihatinkan. Menurutnya, genangan air dan minimnya penerangan berpotensi menimbulkan bahaya.
“Ini sudah seperti rawa, bukan pasar lagi. Banyak nyamuk juga sekarang terutama saat sore hari. Kami takutnya ada ular di sana karena tempatnya tidak terurus dengan baik,” ujarnya.
Ia berharap setidaknya ada petugas dari pemerintah yang rutin membersihkan lokasi agar tak menjadi sarang penyakit dan hewan berbahaya.
“Minimal ada petugas dari pemerintah yang membersihkan, jangan dibiarkan begitu. Kita berharap pembangunan bisa dilakukan lah, jangan dibiarkan mangkrak bertahun-tahun,” tegasnya.
5. Gubernur Sumsel: Tunggu Legal Opinion untuk Lanjutkan Pembangunan
Gubernur Sumsel Herman Deru menyatakan Pemprov siap melanjutkan pembangunan Pasar Cinde, asalkan sudah ada legal opinion sebagai dasar hukum.
“Jika legal opinion keluar segera, kami langsung anggarkan dan mulai pembangunan. Tujuan kami adalah mengembalikan fungsi awal pasar sekaligus menyesuaikan dengan perkembangan zaman,” ujar Deru, Selasa (15/4/2025).
Ia menegaskan identitas Pasar Cinde sebagai pasar tradisional tidak boleh hilang. Pemerintah akan menjaga agar tidak ada pencampuran fungsi seperti apartemen di area tersebut.
“Identitas Pasar Cinde sebagai pasar tradisional harus dipertahankan. Ini adalah kebanggaan masyarakat, khususnya para pedagang dan pelanggan setia,” tambahnya.
6. Kejati Sumsel Periksa Dugaan Korupsi Pembangunan Cinde
Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan telah menaikkan status hukum proyek Pasar Cinde dari penyelidikan ke penyidikan. Sejumlah mantan pejabat Pemprov, Pemkot, dan kontraktor sudah diperiksa.
Penyidik juga menyita berbagai alat bukti untuk menelusuri dugaan penyimpangan yang menyebabkan proyek ini mangkrak.
“Untuk informasi terbaru nanti kami informasikan lebih lanjut,” ujar Kasi Penkum Kejati Sumsel, Vanny Yulia Eka Sari.
Pasar Cinde bukan sekadar bangunan. Ia adalah simbol peradaban ekonomi rakyat yang kini ditinggalkan oleh janji-janji pembangunan. Di balik pagar seng yang karatan, harapan pedagang terus menyala meski di tengah gelapnya ketidakpastian.~
- Penulis: admin


