AETI akan Bangun Pusat Riset Tambang Timah di Babel, Harwendro: Lokasinya di UBB
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 18 Okt 2025
- visibility 154
- comment 0 komentar

AETI akan Bangun Pusat Riset Tambang Timah di Babel, Harwendro: Lokasinya di UBB
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Ketua Umum Asosiasi Eksportir Timah Indonesia (AETI), Harwendro Adityo Dewanto, mengumumkan rencana pembangunan pusat riset pertambangan timah di Universitas Bangka Belitung (UBB), yang akan dimulai tahun depan.
Langkah ini, kata dia, bertujuan untuk menciptakan sumber daya manusia lokal yang andal di bidang pertambangan timah, sekaligus memperkuat data eksplorasi cadangan timah nasional.
“Tahun depan ground breaking (peletakan batu pertama, red) mudah-mudahan bisa lebih cepat. Lokasinya di Universitas Bangka Belitung. Teman-teman smelter, termasuk PT Timah juga kita undang,” ujar Harwendro di Gedung Mahligai Rumah Dinas Gubernur Babel, Pangkalpinang, Sabtu siang (18/10/2025).
Menurutnya, keberadaan pusat riset tersebut penting agar Bangka Belitung tidak hanya menjadi produsen timah terbesar kedua di dunia, tetapi juga memiliki tenaga ahli dari daerah sendiri.
“Kita ingin menciptakan ahli-ahli tambang timah, terutama orang Bangka Belitung. Jangan sampai kita produsen timah terbesar kedua dunia, tapi tidak punya ahlinya sendiri,” tegasnya.
Harwendro juga menyinggung kekhawatiran terhadap cadangan timah yang diperkirakan hanya bertahan 25 hingga 30 tahun ke depan. Ia menilai, jika eksplorasi baru terus dilakukan, maka ketersediaan timah juga akan meningkat seiring meningkatnya permintaan industri.
“Data itu kan dari pemerintah. Kalau kita dorong teman-teman melakukan eksplorasi, datanya akan meningkat lagi, tergantung dari aktivitas pengeboran dan riset,” jelasnya.
Selain fokus pada pengembangan riset, AETI juga menyoroti pentingnya penertiban ekspor dan pencegahan penyelundupan timah ke luar negeri, yang selama ini merugikan negara.
“Negara bisa rugi kalau timah diselundupkan, karena yang untung justru negara lain. Sekarang kita sudah bayar 7,5 persen setiap kali ekspor, jadi harus benar-benar direalisasikan agar penerimaan negara tidak bocor,” ujar Harwendro.
Di sisi lain, AETI juga mendukung upaya reklamasi lahan bekas tambang timah di Bangka Belitung. Menurut Harwendro, program tersebut dilakukan secara bertahap untuk memperbaiki lingkungan yang terdampak aktivitas pertambangan.
“Kita mau tutup tambang-tambang bekas, mudah-mudahan nanti bisa menyusul sekitar tujuh puluh hektare lagi. Tapi dilakukan bertahap,” pungkasnya.
- Penulis: admin


