97 Tahun Sumpah Pemuda, Ketua Bawaslu Babel: Pemuda Harus Jadi Pengawal Integritas Demokrasi
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 28 Okt 2025
- visibility 64
- comment 0 komentar

Kualitas Demokrasi Tidak Hanya Ditentukan oleh Penyelenggara atau Peserta Pemilu, Melainkan juga oleh Partisipasi Aktif Masyarakat, Terutama Kalangan Muda
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), EM Osykar, mengajak generasi muda untuk menjadi pengawal integritas demokrasi Indonesia.
Menurutnya, semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap 28 Oktober harus dimaknai sebagai panggilan untuk menjaga persatuan dan kejujuran dalam kehidupan berbangsa, termasuk dalam praktik politik dan pemilu.
“Sumpah Pemuda bukan hanya simbol sejarah, tetapi kompas moral bagi generasi penerus bangsa. Pemuda harus hadir sebagai penjaga nilai kejujuran, etika, dan integritas dalam demokrasi kita,” ujar Osykar, dalam siaran pers yang diterima DOORSTOP.ID, Senin (28/10/2025) malam.
Osykar menilai, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh penyelenggara atau peserta pemilu, melainkan juga oleh partisipasi aktif masyarakat, terutama kalangan muda.
Karena itu, kata Osykar menambahkan, Bawaslu terus mendorong pengawasan partisipatif yang melibatkan pemuda di seluruh daerah.
“Bawaslu tidak bisa bekerja sendirian. Pengawasan partisipatif harus menjadi gerakan bersama. Pemuda adalah kekuatan besar untuk mengawal proses demokrasi agar tetap bersih dan beretika,” tegasnya.
Lebih lanjut, Osykar menyoroti tantangan generasi muda di era digital yang serba cepat dan terbuka. Di tengah arus informasi yang deras, ia menekankan pentingnya literasi digital dan sikap kritis agar pemuda tidak mudah terprovokasi oleh isu atau hoaks yang memecah belah.
“Pemuda jangan mudah dimanfaatkan oleh kepentingan pragmatis. Bijaklah dalam menyikapi situasi politik, jangan percaya begitu saja pada informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.
Osykar juga menyinggung bahwa persoalan terbesar pemuda bukan hanya kemiskinan atau pengangguran, tetapi kemalasan berpikir dan sikap apatis terhadap lingkungan sosial dan kebangsaan. Menurutnya, bangsa ini membutuhkan pemuda yang jujur, berani dan peduli.
“Bangsa ini memerlukan pemuda yang berpikir kritis, berani bersuara, dan peduli terhadap nilai-nilai kebangsaan. Demokrasi yang berintegritas hanya bisa terwujud jika pemuda ikut mengawal dan memperjuangkannya,” ujarnya.
Menutup pesannya, Osykar mengingatkan bahwa nilai-nilai Sumpah Pemuda harus tetap menjadi kompas moral dalam membangun masa depan bangsa.
“Semangat persatuan, kejujuran, dan tanggung jawab harus terus dijaga. Dari pemuda lahir kekuatan baru untuk mewujudkan Indonesia yang lebih kuat, demokratis, dan bermartabat,” pungkasnya.
- Penulis: admin


