Dirut PLN: RUPTL Diperpanjang hingga 2040, Kapasitas PLTN Ditargetkan Naik Jadi 7 Gigawatt
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 10 Mar 2026
- visibility 104
- comment 0 komentar

RUPTL 2025–2034 akan Membangun PLTN Berkapasitas 500 MW
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyatakan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) membutuhkan waktu panjang, antara 11 hingga 14 tahun, sehingga perlu dimasukkan dalam perencanaan jangka panjang sektor ketenagalistrikan nasional.
Karena itu, PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengusulkan agar horizon perencanaan dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) diperpanjang hingga tahun 2040.
Darmawan menjelaskan, dalam RUPTL 2025–2034 kapasitas pembangkit nuklir yang direncanakan baru sebesar 500 megawatt. Angka tersebut dinilai masih jauh di bawah kebutuhan listrik nasional di masa depan.
“Hasil pemodelan bersama PLN, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan International Energy Agency menunjukkan bahwa setelah 2035 Indonesia perlu menambah kapasitas nuklir hingga 7 gigawatt,” kata Darmawan di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut dia, proyek PLTN sulit dimasukkan dalam horizon RUPTL yang hanya sampai 2034, karena waktu perencanaan dan pembangunan pembangkit nuklir bisa memakan waktu lebih dari satu dekade.
“Pertanyaannya, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merancang, membangun, dan menyelesaikan proyek PLTN? Estimasi yang muncul berkisar antara 11 tahun, 13 tahun, hingga 14 tahun,” ujarnya.
Darmawan menyebut dalam pembahasan bersama Menteri ESDM terdapat sinyal bahwa RUPTL akan diperpanjang hingga 2040. Dengan skema tersebut, kata Darmawan, kapasitas nuklir yang direncanakan dapat meningkat signifikan dari 500 megawatt menjadi sekitar 7 gigawatt.
Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana, mengatakan Indonesia menargetkan PLTN pertama dapat beroperasi pada periode 2032–2034.
Target tersebut, kata dia, merupakan bagian dari rencana jangka panjang pengembangan energi nuklir hingga mencapai kapasitas 44 gigawatt pada 2060, sejalan dengan komitmen mencapai Net Zero Emissions.
“Dari total 44 gigawatt itu, 35 gigawatt akan digunakan untuk pembangkitan listrik, sementara 9 gigawatt dialokasikan untuk produksi hidrogen nasional mulai 2045,” kata Dadan.
Ia menambahkan, target awal dalam RUPTL 2025–2034 adalah pembangunan PLTN berkapasitas 500 megawatt yang direncanakan berada di sistem kelistrikan Sumatera dan Kalimantan. (*)
- Penulis: admin


