BRIN Kembangkan Sistem Pemantauan Reaktor Kartini dengan Teknologi PLC
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 22 Mar 2026
- visibility 203
- comment 0 komentar

Tingkat Akurasi Sistem Baru Tergolong Tinggi
DOORSTOP.ID, YOGYAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan sistem akuisisi data operasi untuk Reaktor Nuklir Kartini di Yogyakarta sebagai bagian dari upaya modernisasi teknologi pemantauan fasilitas riset nuklir.
Sistem baru tersebut berbasis Programmable Logic Controller (PLC) guna meningkatkan keandalan dan keselamatan operasional reaktor.
Reaktor Kartini yang dikelola BRIN merupakan reaktor riset tipe TRIGA Mark II yang beroperasi sejak 1979 dan dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, serta pelatihan di bidang ketenaganukliran.
Dosen sekaligus Wakil Direktur Akademik Politeknik Teknologi Nuklir Indonesia BRIN, Sutanto, mengatakan pembaruan sistem diperlukan karena sebagian perangkat pendukung sebelumnya sudah usang dan sulit mendapatkan suku cadang.
“Pengelolaan sistem menjadi aspek krusial untuk memastikan akuisisi data operasi reaktor tetap aman sesuai standar keselamatan internasional,” kata Sutanto, Kamis (12/3/2026).
Penelitian yang dilakukan bersama Muhammad Salino Akbar dan Zulfikar Elran Bhagaskara itu juga merujuk pada rekomendasi evaluasi tim ahli dari International Atomic Energy Agency (IAEA), yang menyarankan pembaruan subsistem pemantauan reaktor.
Menurut Sutanto, sistem baru dirancang sebagai sistem cadangan yang lebih moderen sekaligus meningkatkan keandalan pemantauan parameter operasi reaktor.
Dalam pengembangannya, sistem PLC tersebut terintegrasi dengan perangkat lunak LabVIEW yang memungkinkan visualisasi data operasi reaktor secara real-time.
Sistem ini mampu merekam berbagai parameter penting, antara lain daya linear, persentase daya logaritmik, periode reaktor, hingga posisi batang kendali.
Selain itu, sistem juga memantau sinyal digital terkait mekanisme keselamatan, termasuk kondisi trip yang dapat menghentikan operasi reaktor secara otomatis saat terjadi anomali.
Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi sistem baru tergolong tinggi.
Deviasi kesalahan relatif untuk parameter daya linear tercatat sekitar 0,09 persen, sedangkan parameter periode reaktor dan posisi batang kendali memiliki tingkat kesalahan di bawah 1 persen.
Pengujian dilakukan dengan membandingkan hasil pengukuran sistem baru dengan sistem pemantauan lama yang masih digunakan dalam operasional reaktor.
“Seluruh sinyal digital keselamatan juga berfungsi sesuai kondisi yang diharapkan. Ini menunjukkan sistem baru dapat bekerja sebanding dengan sistem lama dengan tingkat akurasi yang sangat baik,” ujarnya.
Sutanto menambahkan, pengembangan teknologi ini juga menunjukkan peran institusi pendidikan vokasi BRIN dalam menghasilkan inovasi yang mendukung operasional fasilitas nuklir riset.
“Melalui keterlibatan dosen dan mahasiswa, kami berharap dapat memperkuat kompetensi teknis sekaligus memberi kontribusi nyata bagi peningkatan keselamatan dan keandalan operasi reaktor riset di Indonesia,” kata dia. (*)
- Penulis: admin


