Perang Timur Tengah Memanas, Bursa Asia Rontok hingga 6% di Awal Pekan
- account_circle admin
- calendar_month Sen, 23 Mar 2026
- visibility 183
- comment 0 komentar

Tekanan Lebih Dalam Terjadi di Jepang
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Melansir CNBC Indonesia, bursa saham Asia diketahui dibuka di zona merah pada perdagangan Senin (23/3/2026) pagi, seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah serta kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat
Sementara itu, pasar saham Indonesia belum beroperasi karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dalam masa libur Idulfitri.
Melansir data TradingView hingga pukul 08.05 WIB, indeks Straits Times Index (STI) Singapura melemah 1,9% ke level 4.854,77.
Tekanan lebih dalam terjadi di Jepang dengan indeks Nikkei yang anjlok 4,83% ke posisi 50.762,18. Adapun indeks Kospi Korea Selatan mencatat pelemahan terdalam di kawasan setelah turun 6,29% ke level 5.417,61.
Di Seoul, tekanan jual terlihat pada sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham Samsung Electronics turun 5%, diikuti SK hynix yang melemah 5,56%.
Dari sektor otomotif, Hyundai Motor terkoreksi 4,09%. Sementara itu, saham Hanwha Aerospace turun 3,86% dan KB Financial melemah 4,06%.
Per pukul 08.26 WIB, indeks Hang Seng (HSI) Hong Kong juga bergerak di zona negatif setelah turun 1,93% ke level 24.789,14.
Pelemahan bursa Asia terjadi di tengah meningkatnya tensi geopolitik setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melontarkan ancaman, sementara konflik Israel–Iran belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi global, terutama karena Selat Hormuz menjadi jalur vital distribusi minyak dunia yang berisiko terdampak konflik.
Sentimen negatif juga datang dari lonjakan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang mencapai level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
Kenaikan ini mencerminkan perubahan ekspektasi investor terhadap arah kebijakan suku bunga global, di mana peluang penurunan suku bunga mulai memudar akibat tekanan inflasi dari kenaikan harga energi.
Bagi pasar Asia, kondisi ini menjadi tekanan ganda. Selain meningkatnya risiko geopolitik yang mendorong investor menjauhi aset berisiko, kenaikan harga energi juga berpotensi menekan kinerja emiten serta memperburuk prospek ekonomi negara-negara yang bergantung pada impor energi.
Kenaikan biaya energi dan transportasi juga memunculkan kekhawatiran terhadap daya beli masyarakat dan permintaan konsumsi.
Kombinasi antara suku bunga yang diperkirakan tetap tinggi, yield obligasi yang meningkat, serta risiko geopolitik membuat pelaku pasar cenderung melakukan aksi jual sejak awal perdagangan. (*)
- Penulis: admin


