Iran Wajibkan Tol Bitcoin untuk Lintasi Selat Hormuz
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 9 Apr 2026
- visibility 126
- comment 0 komentar

Logo bitcoin (istockphoto)
Iran Wajibkan Tol Bitcoin untuk Lintasi Selat Hormuz
DOORSTOP.ID — Iran mewajibkan kapal tanker minyak membayar “uang tol” dalam bentuk Bitcoin jika ingin melintasi Selat Hormuz. Keputusan ini diambil di tengah masa gencatan senjata dua minggu dengan Amerika Serikat, dan langsung memicu lonjakan harga mata uang kripto tersebut.
Hanya dalam hitungan jam, harga Bitcoin melesat dari kisaran US$ 68.000 menjadi hampir US$ 73.000. Kini, prediksi harga Bitcoin di pasar global tidak lagi sekadar soal grafik teknis, namun tentang pergerakan kapal perang di salah satu jalur maritim paling vital di dunia itu.
Berdasarkan laporan Financial Times yang dikutip Kamis malam (9/4/2026), mekanisme yang diterapkan Teheran ini tergolong memaksa. Kapal tanker yang bermuatan penuh diwajibkan mengirimkan rincian kargo lewat email yang ditujukan ke otoritas Iran.
Iran lalu menetapkan biaya sekitar US$ 1 per barel. Awak kapal hanya diberikan waktu beberapa detik untuk menyelesaikan pembayaran via Bitcoin. Kapal yang kosong diperbolehkan lewat secara gratis, namun kapal yang mencoba melintas tanpa izin atau mengabaikan prosedur akan mendapatkan peringatan radio dengan ancaman tegas.
“Akan dihancurkan,” katanya.
Lantas, mengapa pemerintah Iran memilih Bitcoin? karena aset digital ini tidak dapat dibekukan oleh sistem perbankan global. Sebuah kapal super tanker yang membawa dua juta barel minyak diperkirakan harus membayar sekitar US$ 2 juta per perjalanan dalam bentuk Bitcoin.
Hamid Hosseini, juru bicara persatuan eksportir produk petrokimia Iran, menyatakan langkah ini diambil untuk memantau lalu lintas barang dan memastikan celah gencatan senjata tidak digunakan untuk pengiriman senjata. Bagi investor, penggunaan Bitcoin oleh sebuah negara untuk transaksi energi strategis adalah preseden yang sangat besar.
Pasar bereaksi keras terhadap kebijakan ini. Lebih dari US$ 400 juta posisi short (taruhan harga turun) terlikuidasi dalam 24 jam. Sementara harga minyak turun sekitar 15% menyusul pengumuman gencatan senjata, Bitcoin dan emas justru reli bersamaan.
Para analis dari Trading Key berpendapat target US$ 100.000 per Bitcoin kini menjadi realistis jika ketidakstabilan global terus berlanjut. Dalam tekanan sanksi, sistem perbankan tradisional menghadapi banyak batasan, menjadikan Bitcoin sebagai satu-satunya saluran modal safe-haven global secara real-time.
Meski optimisme pasar tinggi, para trader tetap waspada. Gencatan senjata ini sangat rapuh karena adanya benturan tuntutan. Donald Trump menuntut pembukaan Selat Hormuz secara “total, segera, dan aman”. Sementara Iran bersikeras menerapkan “protokol perlintasan aman” yang dikoordinasikan dengan angkatan bersenjatanya, trmasuk tol Bitcoin tersebut.
Dunia kini menanti apakah langkah Iran ini akan diikuti oleh negara lain yang juga terkena sanksi dollar, seperti Rusia atau Korea Utara. Jika hal itu terjadi, wajah keuangan global dipastikan akan berubah selamanya.
Selat Hormuz merupakan titik sumbat (chokepoint) maritim paling penting di dunia, yang menghubungkan produsen minyak di Timur Tengah dengan pasar di seluruh dunia. Sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia melintasi selat sempit ini setiap harinya. Dalam sejarah konflik Timur Tengah, penguasaan atas selat ini selalu menjadi “kartu as” bagi Iran untuk menekan ekonomi global.
Langkah Iran mengintegrasikan Bitcoin ke dalam kendali mereka atas Selat Hormuz menandai babak baru dalam perang finansial modern. Sejak dimulainya operasi militer AS-Israel ke Iran pada Februari 2026, Iran telah mencari berbagai cara untuk menghindari sistem pembayaran SWIFT yang didominasi dollar AS.
Dengan mewajibkan Bitcoin, Iran tidak hanya mengamankan pendapatan yang tidak bisa disita, tetapi juga secara efektif menantang dominasi finansial Amerika Serikat di tengah sengketa nuklir dan militer yang masih berlangsung.
- Penulis: admin


