BRIN Jajaki SMR di AS, Tarik Garis ke Implementasi Nuklir di Indonesia
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 5 Mei 2026
- visibility 78
- comment 0 komentar

Tinjau Langsung Sejumlah Pengembang Reaktor Modular
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mulai menggeser pendekatan pengembangan energi nuklir dari tataran wacana ke tahap pra-implementasi.
Melalui benchmarking ekosistem Small Modular Reactor (SMR) di Amerika Serikat, lembaga ini menyiapkan fondasi teknis, regulatif, dan kelembagaan untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia.
Kunjungan pada 20–24 April 2026 itu merupakan bagian dari program Foundational Infrastructure for the Responsible Use of Small Modular Reactor Technology (FIRST).
Alih-alih sekadar studi banding, agenda tersebut diarahkan untuk mengunci opsi teknologi, model kerja sama, dan skema implementasi yang realistis bagi Indonesia.
“Kegiatan ini bukan hanya melihat, tapi menyusun langkah konkret, termasuk peluang deployment SMR di dalam negeri,” kata Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir BRIN, Syaiful Bakhri, Kamis (30/4/2026).
BRIN meninjau langsung sejumlah pengembang reaktor modular seperti NuScale Power, BWX Technologies, Kairos Power dan X-Energy.
Penilaian difokuskan pada tingkat kematangan teknologi, standar keselamatan, serta kesesuaian dengan kondisi geografis dan kebutuhan listrik nasional.
Dalam peta besar pengembangan nuklir, BRIN memosisikan diri sebagai otoritas teknis, mulai dari seleksi teknologi hingga penentuan tapak.
Sejumlah lokasi potensial PLTN kini dikaji berbasis parameter keselamatan, lingkungan, dan kesiapan infrastruktur.
Namun, isu krusial bukan hanya teknologi. Kesiapan regulasi dan pembiayaan menjadi variabel penentu.
Masukan dari Dewan Energi Nasional menekankan perlunya kerangka regulasi yang adaptif terhadap beragam desain reaktor, termasuk SMR yang memiliki karakteristik berbeda dari PLTN konvensional.
Di sisi lain, BRIN mendorong skema joint research and development serta penyusunan studi kelayakan bersama mitra internasional.
Tujuannya, menekan risiko proyek sejak awal sekaligus menjaga biaya listrik atau levelized cost of electricity (LCOE) tetap kompetitif.
Kesiapan sumber daya manusia juga menjadi sorotan. BRIN menargetkan penguatan tenaga teknis, operator, hingga regulator.
Salah satu instrumen yang disiapkan adalah pembangunan simulator reaktor untuk pelatihan dan pengujian kompetensi.
Di hilir, PT PLN (Persero) mulai menyiapkan respons kebijakan. Perusahaan listrik negara itu menyatakan akan menyusun peta jalan implementasi SMR sebagai bagian dari transisi energi nasional.
“PLN akan menindaklanjuti hasil benchmarking dengan langkah implementatif, termasuk koordinasi dengan regulator dan mitra global,” kata Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi.
Dari sisi eksternal, dukungan geopolitik menguat. Pemerintah Amerika Serikat membuka ruang kolaborasi lebih luas, termasuk melalui konsorsium lintas negara bersama Jepang, Korea Selatan, dan Kanada.
Kanal diplomasi seperti forum dialog 2+2 Indonesia–AS juga menjadi instrumen sinkronisasi kebijakan energi.
Meski demikian, tantangan implementasi tetap besar, kepastian regulasi, skema pembiayaan jangka panjang, serta penerimaan publik.
Tanpa itu, ambisi menghadirkan nuklir sebagai bagian dari bauran energi bersih berisiko tertahan di tahap perencanaan.
BRIN kini berada di titik krusial, yakni menjembatani riset dengan keputusan politik dan investasi. Keberhasilan tahap ini akan menentukan apakah SMR benar-benar menjadi solusi energi masa depan Indonesia, atau kembali menjadi proyek yang tertunda. (*)
- Penulis: admin


