Inflasi Pangkalpinang Melonjak 2,67 Persen pada Juli 2026, Tiket Pesawat, BBM, dan Cumi-Cumi Jadi Pemicu Utama
- account_circle admin
- calendar_month Sen, 3 Agu 2026
- visibility 87
- comment 0 komentar

Inflasi Pangkalpinang Melonjak 2,67 Persen pada Juli 2026, Tiket Pesawat, BBM, dan Cumi-Cumi Jadi Pemicu Utama
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pangkalpinang mencatat Indeks Harga Konsumen (IHK) di Kota Pangkalpinang mengalami inflasi secara year-on-year (y-on-y) sebesar 2,67 persen pada Juli 2026. Angka ini melonjak dibandingkan capaian inflasi pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala BPS Kota Pangkalpinang, Dewi Savitri, mengungkapkan bahwa kenaikan harga tarif angkutan udara, bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin, serta komoditas hasil laut seperti cumi-cumi dan ikan tenggiri mendominasi tekanan inflasi di ibu kota Provinsi Bangka Belitung tersebut.
“Pada Juli 2026, Indeks Harga Konsumen Kota Pangkalpinang berada di level 109,24, atau naik dari angka 106,40 pada Juli 2025. Secara tahunan (y-on-y), kita mengalami inflasi sebesar 2,67 persen, sedangkan secara bulanan (m-to-m) inflasi tercatat 0,85 persen,” ujar Dewi dalam rilis Berita Resmi Statistik (BRS) yang diterima redaksi, Senin sore (3/8/2026).
Transportasi dan Hasil Laut Dorong Kenaikan Harga
Dewi menjelaskan, secara tahunan (year-on-year), kelompok transportasi mencatatkan lonjakan paling tajam, yakni mencapai 6,25 persen dan memberikan andil inflasi terbesar sebesar 0,85 persen. Di sektor ini, tingginya tarif penerbangan menjadi penyebab utama.
“Komoditas angkutan udara mengalami inflasi hingga 33,15 persen secara tahunan dan menyumbang andil 0,48 persen terhadap total inflasi umum. Selain itu, penyesuaian harga BBM bensin memberikan andil 0,23 persen dan sepeda motor menyumbang 0,05 persen,” terang Dewi.
Sementara itu, secara bulanan (month-to-month), kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru mendominasi tekanan inflasi Juli 2026 dengan andil sebesar 0,54 persen dari total inflasi bulanan 0,85 persen.
“Aktivitas nelayan yang terganggu akibat cuaca buruk, gelombang tinggi, dan angin kencang di perairan Bangka Belitung membuat pasokan ikan segar dan cumi-cumi tersendat. Akibatnya, harga cumi-cumi di pasaran sempat menyentuh angka Rp140 ribu per kilogram. Secara bulanan, ikan tenggiri naik 28,19 persen dengan andil 0,12 persen, dan cumi-cumi naik 16,08 persen dengan andil 0,09 persen,” papar Dewi.
Efek rantai pasok dan bahan baku laut yang menanjak ini turut mengerek harga kuliner olahan. Komoditas nasi dengan lauk mencatatkan inflasi bulanan sebesar 5,59 persen dan memberikan andil sebesar 0,11 persen.
Bawang Merah dan Cabai Jadi Penahan Inflasi
Meskipun sebagian besar kelompok pengeluaran mengalami kenaikan indeks harga, BPS mencatat sejumlah komoditas bahan pangan holtikultura justru mengalami deflasi dan menahan laju inflasi yang lebih tinggi.
“Beberapa komoditas pangan yang konsisten memberikan andil deflasi atau penurunan harga baik secara bulanan maupun tahunan di antaranya adalah bawang merah, cabai merah, cabai rawit, serta daging ayam ras,” kata Dewi.
Bawang merah mencatatkan andil deflasi paling signifikan baik secara tahunan maupun bulanan, yakni sebesar -0,08 persen. Penurunan harga ini terjadi seiring terjaganya pasokan pasok daerah dari wilayah sentra produksi.
Perbandingan Antarwilayah di Bangka Belitung
Jika dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, laju inflasi tahunan Kota Pangkalpinang (2,67 persen) berada sedikit di atas rata-rata provinsi yang tercatat sebesar 2,62 persen.
Kabupaten Belitung Timur mencatatkan inflasi tahunan tertinggi di provinsi tersebut yakni 3,50 persen, disusul Kota Pangkalpinang (2,67 persen), Kabupaten Bangka Barat (2,00 persen), dan Tanjung Pandan (1,81 persen). Secara bulanan, hanya Kabupaten Bangka Barat yang mengalami deflasi sebesar -0,28 persen, sedangkan daerah lainnya mengalami inflasi.
Dengan perkembangan hingga Juli 2026, tingkat inflasi kalender (year-to-date) Kota Pangkalpinang berada di level 1,59 persen. BPS mengimbau pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), untuk terus mengawal stabilitas pasokan pangan serta kelancaran distribusi logistik udara dan laut guna memitigasi potensi kenaikan harga di bulan-bulan mendatang.
- Penulis: admin


