Viral Dentuman Misterius di Bandung, Benarkah Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau? Ini Penjelasan Ahli
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 6 Sep 2026
- visibility 56
- comment 0 komentar

Viral Dentuman Misterius di Bandung, Benarkah Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau? Ini Penjelasan Ahli
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Jagat media sosial dalam 24 jam terakhir dihebohkan oleh rekaman video warga yang memperlihatkan suara dentuman misterius di wilayah Bandung Raya. Suara berdentum dengan frekuensi rendah tersebut dilaporkan terdengar sejak Jumat malam hingga Sabtu dini hari (4–5 September 2026), bersamaan dengan fase erupsi menerus Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
Fenomena yang viral ini memicu perdebatan hangat di kalangan netizen dan memancing perhatian serius dari para ahli. Dua otoritas resmi, yakni Badan Geologi dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), merilis analisis ilmiah yang berbeda terkait sumber suara tersebut.
Teori Lapisan Inversi: Suara Letusan Merambat Ratusan Kilometer
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bersama Badan Geologi menilai adanya indikasi kuat bahwa dentuman di Bandung berkaitan erat dengan aktivitas vulkanik di Selat Sunda.
Kepala PVMBG, Rita Susilawati, menjelaskan bahwa karakteristik erupsi Anak Krakatau kali ini melepaskan ekspansi gas bervolume besar secara cepat. Proses ini menciptakan gelombang akustik berfrekuensi rendah (infrasound).
“Gelombang suara frekuensi rendah memiliki kemampuan merambat sangat jauh. Ditambah dengan kondisi atmosfer tertentu seperti adanya lapisan inversi, gelombang suara ini dapat memantul berulang kali di udara dan jatuh di area yang jauh seperti Bandung, meskipun wilayah intermedier di antaranya justru tidak mendengar apa pun,” ujar Rita dalam keterangan tertulisnya, yang dikutip Minggu (6/9/2026).
Fenomena akustik serupa tercatat pernah terjadi saat erupsi besar Gunung Kelud pada tahun 2014 dan Anak Krakatau pada April 2020.
BMKG Sebut Faktor Atmosfer Lain atau ‘Skyquake’
Pandangan berbeda disampaikan oleh BMKG Stasiun Geofisika Bandung. Berdasarkan rekaman sensor petir dan aktivitas kegempaan lokal, BMKG menyatakan sumber suara tersebut belum dapat dipastikan berasal dari aktivitas vulkanik Anak Krakatau.
Pihak BMKG Bandung menerangkan bahwa faktor jarak geografis yang melebihi 200 kilometer membuat perambatan suara murni menjadi sangat sulit. BMKG menduga fenomena tersebut lebih condong pada fenomena dinamika atmosfer atau skyquake (gempa langit), ataupun potensi runtuhan di kawasan karst bawah tanah yang memerlukan penelitian lintas disiplin lebih lanjut.
Warga Diimbau Tetap Tenang, Sesar Lembang Aman
Meski sumber suara masih menjadi perdebatan ilmiah, instansi terkait memastikan bahwa alat monitoring kegempaan di Jawa Barat, khususnya pada jalur aktif Sesar Lembang, berada dalam kondisi normal dan stabil. Masyarakat Bandung Raya diimbau untuk tidak panik dan tidak mudah memercayai informasi hoaks yang mengaitkan dentuman tersebut dengan potensi gempa bumi destruktif.
Hingga saat ini, status Gunung Anak Krakatau masih berada pada level waspada dengan zona sterilisasi radius 3 kilometer dari kawah aktif. Warga di wilayah Jawa Barat dan Banten diminta tetap memperbarui informasi melalui saluran resmi BNPB, PVMBG, dan BMKG.
- Penulis: admin


