Gitaris Seringai, Ricky Siahaan, Meninggal Dunia Saat Tur di Jepang
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 20 Apr 2025
- visibility 68
- comment 0 komentar

Gitaris Seringai, Ricky Siahaan, Meninggal Dunia Saat Tur di Jepang
DOORSTOP.ID, JAKARTA – Kabar duka menyelimuti dunia musik rock Tanah Air. Gitaris grup musik metal Seringai, yang lahir di Tanjung Pandan, Belitung, Ricky Siahaan, dikabarkan meninggal dunia saat menjalani tur bersama bandnya di Jepang, Sabtu, 19 April 2025. Musisi yang dikenal sebagai ikon skena rock dan metal Indonesia ini, tutup usia di usia 48 tahun.
Kabar kepergian Ricky menyebar cepat dan mengejutkan banyak pihak, terutama para penggemar serta rekan-rekan musisi. Unggahan komedian Soleh Solihun di akun X miliknya menjadi salah satu sumber pertama kabar duka tersebut.
“Selamat jalan @RickySiahaan. Semoga kamu diterima di sisi Tuhan,” tulis Soleh dalam cuitan yang diunggahnya Minggu (20/4/2025) pagi.
Saat dikonfirmasi media, Soleh membenarkan kabar itu. Ia mengaku mendapatkan informasi dari grup WhatsApp yang berisi mantan karyawan majalah Rolling Stone.
“Dari grup WA mantan karyawan Rolling Stone sih, sudah dikonfirmasi,” ujarnya singkat.
Yang membuat kabar ini terasa semakin mendadak, Ricky sempat aktif di media sosial hanya beberapa jam sebelum ia berpulang. Ia mengunggah foto dan video penampilannya di Jepang, menunjukkan semangat dan energi seperti biasanya di atas panggung.
Selama ini, Ricky dikenal sebagai motor penggerak semangat musik keras di Indonesia. Bersama Seringai, ia menciptakan banyak karya yang tak hanya keras secara musikalitas, tapi juga menggugah semangat perlawanan dan kejujuran di kalangan penggemarnya.
Profil Ricky Siahaan
Ricky Siahaan, lahir dengan nama Ricardo Bisuk Juara Siahaan di Tanjung Pandan, Belitung pada 5 Mei 1976. Seorang musisi, produser dan manajer band yang dikenal sebagai pendiri dan gitaris grup musik rock metal Seringai.
Karier musiknya sudah tampak saat ia masih SD. Di mana, Ricky mulai menggemari band-band hard rock seperti Mötley Crüe dan Iron Maiden akibat menonton kompilasi video musik, dan Metallica menjadi band favoritnya.
Ricky baru belajar gitar saat SMA karena melihat teman-temannya yang membawa gitar ke sekolah dan dikelilingi lawan jenis. Karena mengidolakan James Hetfield dari Metallica dan Billy Corgan dari The Smashing Pumpkins, maka lagu-lagu kedua band itu yang dipelajarinya.
Pada tahun 1995, Ricky membentuk band bernama Chapter 69 bersama Deddy Mahendra Desta dan Cliff Rompies, dua teman sekolahnya di SMA Negeri 68 Jakarta yang tergabung di Clubeighties. Mereka membawakan lagu-lagu Smashing Pumpkins dan Ratcat, dan dari sinilah Ricky mulai bergaul dengan berbagai band dan komunitas yang kerap berkumpul di Poster Cafe.
Salah satu band yang paling dikagumi Ricky dari masa itu adalah Puppen, grup musik hardcore asal Bandung yang dinilai Ricky memiliki tingkat profesionalisme dari segi produksi panggung yang lebih tinggi dibanding band-band kancah bawah tanah pada umumnya.
Ricky sempat tergabung di band hardcore bernama Buried Alive, namun kemudian pada tahun 1999 ia ditawari untuk menjadi gitaris Stepforward.
Stepforward adalah band hardcore lain yang dikagumi Ricky dari era Poster Cafe, dan ia setuju untuk bergabung. Terinspirasi Puppen, Ricky berupaya untuk ikut membuat Stepforward lebih profesional dari segi produksi panggung dan manajemen. Mereka merilis album Stories of Undying Hope pada tahun 2001.
Ricky masih aktif di Stepforward walau tidak seintensif di Seringai, band yang dibentuknya bersama Arian13, mantan vokalis Puppen, pada tahun 2002.
Mereka lebih banyak vakum dengan sekali-sekali muncul untuk tampil di festival-festival besar seperti Java Rockin’ Land pada tahun 2011, Rock In Celebes pada tahun 2016, dan Synchronize Festival pada tahun 2019. Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke-25, Stepforward melepas piringan hitam berisi dua lagu, yakni “Solitaire” dan “Saksi Imaji”.
Setelah bergabung di Stepforward, Ricky menjadi akrab dengan Arian13, vokalis Puppen yang juga teman baiknya Jill Van Diest, vokalis Stepforward. Ricky dan Arian cocok karena sama-sama memiliki selera musik yang luas, dan sejak itu kalau Arian datang ke Jakarta, biasanya ia menginap di rumah Ricky yang menjemputnya di Stasiun Gambir.
Sebaliknya, ketika Ricky pergi ke Bandung untuk mengedarkan kaset album Stepforward, ia menginap di rumah Arian yang membantunya berkeliling ke toko-toko yang akan menjual kasetnya.
Setelah Puppen bubar pada tahun 2002, Arian pindah ke Jakarta untuk bermukim dan bekerja. Ricky dan Arian pun memiliki ide untuk membuat band baru yang musiknya berbeda dengan apa yang pernah mereka buat sebelumnya.
Bersama gitaris Adhitya Ardinugraha dari Pure Saturday, bassis Regina Citra Arini dari Traxap, dan drumer Edy Khemod yang sempat bermain bersama Arian menjelang bubarnya Puppen di band berumur pendek bernama Aparat Mati, mereka membentuk Derai yang musiknya terinspirasi oleh At the Drive-In, Texas is the Reason dan Kiss It Goodbye.
Umur Derai tidak panjang, karena Ricky dan Arian merasa bahwa musik yang sedang mereka buat tidak sesuai dengan kemampuan mereka. Lalu ketika memainkan lagu-lagu Black Sabbath dan Black Flag untuk bersenang-senang, barulah mereka menemukan konsep band yang cocok. Maka lahirlah Seringai, dengan tetap melibatkan Edy Khemod pada drum, ditambah Toan Sirait pada bas yang kemudian digantikan oleh Sammy Bramantyo.
Seringai pun menjadi salah satu dari gelombang baru band kancah independen Jakarta yang turut meramaikan bar yang bernama BB’s dan kemudian didokumentasikan melalui kompilasi JKT:SKRG yang dirilis pada Juni 2004.
Dengan Ricky sebagai gitaris, komponis dan produser, Seringai telah menghasilkan satu mini-album, High Octane Rock (2004), serta tiga album penuh, yakni Serigala Militia (2007), Taring (2012) dan Seperti Api (2018).
Selain tampil di berbagai kota dan pulau di Indonesia, Seringai juga pernah diundang untuk bermain di Malaysia, Singapura dan Jepang. Seringai bahkan pernah menjadi band pembuka di konser idola masa kecilnya Ricky, yakni Metallica, di Gelora Bung Karno, Jakarta pada tahun 2013.
Ricky pernah membentuk band metal Deadsquad bersama Stevie Item pada 2006. Namun, belum lama bergabung, Ricky mengundurkan diri karena kesibukannya di luar band, kemudian posisinya digantikan oleh Prisa Rianzi.
Pada tahun 2019, Ricky adalah salah satu musisi Indonesia yang menolak RUU Permusikan dan mendesak agar dibatalkan.
Selamat jalan, Ricky Siahaan. Suara gitarmu akan terus menggema di hati para pecinta musik rock Indonesia. Terima kasih atas semangat dan karya-karyamu.
- Penulis: admin


