Israel Halangi Evakuasi Pasien Anak di Gaza, Krisis Kesehatan Memburuk
- account_circle
- calendar_month Sab, 12 Okt 2024
- visibility 56
- comment 0 komentar

DOORSTOP.ID (GAZA UTARA) – Pasukan Israel dilaporkan menghalangi upaya evakuasi pasien anak yang tengah kritis dari beberapa rumah sakit di Gaza Utara, termasuk Rumah Sakit Indonesia.
Upaya evakuasi ini dipimpin oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), namun terhenti akibat blokade militer Israel, menurut pernyataan dari Wakil Menteri Kesehatan Palestina, Maher Shamiya, seperti dilansir dari laman kompas.com, Sabtu (12/10/2024).
“Tentara Israel telah menghalangi utusan WHO yang ditugaskan untuk mengevakuasi pasien di unit perawatan intensif dan anak-anak dari rumah sakit di Gaza Utara ke wilayah selatan Jalur Gaza,” ujar Shamiya, dikutip dari Anadolu, Jumat (11/10/2024).
Krisis di Rumah Sakit Gaza Utara
Tiga rumah sakit utama di Gaza Utara yang terkena dampak serangan—Rumah Sakit Al-Awda, Rumah Sakit Indonesia, dan Rumah Sakit Kamal Adwan—saat ini merawat total 124 pasien.
Dari jumlah tersebut, 13 pasien berada dalam kondisi kritis di unit perawatan intensif, sementara delapan di antaranya adalah anak-anak.
Shamiya menyebutkan bahwa Rumah Sakit Kamal Adwan memiliki unit perawatan intensif pediatrik terbesar di Gaza, namun kini terancam ditutup karena serangan Israel yang terus berlangsung. Penutupan ini akan berdampak besar pada layanan kesehatan bagi anak-anak di Gaza.
Blokade Bahan Bakar dan Dampaknya
Selain menghalangi evakuasi, militer Israel juga dilaporkan telah lima kali memblokir truk-truk yang membawa bahan bakar masuk ke Gaza Utara sejak operasi militer dimulai.
Krisis bahan bakar ini berpotensi melumpuhkan rumah sakit, karena bahan bakar diperlukan untuk menjalankan generator yang mendukung unit perawatan intensif dan ruang operasi.
“Tanpa bahan bakar, rumah sakit akan berhenti beroperasi, dan nyawa pasien yang berada di perawatan intensif sangat terancam,” jelas Shamiya.
Pengepungan Kamp Pengungsi Jabalia
Di sisi lain, situasi di kamp pengungsi Jabalia juga semakin mengkhawatirkan. Shamiya menjelaskan bahwa kamp tersebut kini terkepung total oleh tentara Israel, membuat para penghuninya sulit keluar untuk mendapatkan bantuan medis atau evakuasi.
“Tentara menembaki apa saja yang bergerak, membuat evakuasi korban tewas dan terluka menjadi sangat berbahaya,” tambahnya.
Shamiya mendesak dunia internasional dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan intervensi guna menghentikan pengepungan dan membuka akses bagi bantuan medis dan bahan bakar ke wilayah Gaza Utara.
Ancaman Israel Terhadap Rumah Sakit
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa militer Israel telah memperingatkan rumah sakit-rumah sakit di Gaza Utara, termasuk Rumah Sakit Indonesia, untuk segera mengevakuasi staf dan pasien.
Ancaman ini muncul di tengah operasi militer besar-besaran yang dilancarkan Israel di wilayah Jabalia, Beit Hanoun, dan Beit Lahia.
Pemerintah Gaza menyebut peringatan ini sebagai “tipu daya”, mengingat bahaya yang mengancam warga sipil saat mengungsi dari wilayah konflik.
Kementerian Dalam Negeri dan Keamanan Nasional Gaza mengimbau warga untuk tidak mematuhi perintah evakuasi tersebut.
Krisis Kemanusiaan Memburuk
Sejak operasi militer Israel dimulai pada 7 Oktober 2024, lebih dari 42.000 warga Palestina dilaporkan tewas, sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Selain itu, lebih dari 98.000 lainnya terluka akibat serangan udara dan darat yang dilancarkan Israel.
Blokade yang diterapkan Israel juga menyebabkan krisis kemanusiaan yang parah, dengan kekurangan pasokan makanan, air bersih, dan obat-obatan di wilayah Gaza.
Kondisi ini mengundang desakan dari berbagai pihak agar komunitas internasional segera bertindak untuk menghentikan agresi dan memastikan bantuan kemanusiaan dapat masuk ke wilayah tersebut.
- Penulis:


