Pasokan Teluk Guncang dan Permintaan Lemah, Harga Minyak Dunia Merosot
- account_circle admin
- calendar_month Jum, 14 Agu 2026
- visibility 91
- comment 0 komentar

Pasokan Teluk Guncang dan Permintaan Lemah, Harga Minyak Dunia Merosot
DOORSTOP.ID — Harga minyak dunia merosot tajam pada perdagangan Kamis malam (13/8/2026) akibat pasar yang terombang-ambing oleh ketidakpastian pasokan di kawasan Teluk dan rilis data pelemahan proyeksi permintaan global.
Merujuk data pasar pada pukul 20:10 WIB, harga minyak mentah berjangka Brent anjlok 2,5% ke level $86,73 per barel. Pada saat yang sama, kontrak minyak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 2,8% hingga menyentuh $80,57 per barel.
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah masih menjadi motor utama fluktuasi harga komoditas ini. Sinyal yang saling bertentangan dari Amerika Serikat (AS) dan Iran mengenai status keamanan Selat Hormuz sukses memicu volatilitas tinggi sepanjang pekan ini.
Meskipun demikian, harga minyak sebenarnya sempat mencatat penguatan kuat dalam sepekan terakhir. Para pelaku pasar melihat belum ada kemajuan berarti menuju kesepakatan damai untuk mengakhiri perang Iran dan membuka kembali Selat Hormuz.
Washington dan Teheran sama-sama menegaskan pekan ini bahwa mereka menguasai jalur perairan utama tersebut. Di sisi lain, data pengiriman menunjukkan aktivitas logistik di kawasan itu sebagian besar masih lumpuh total. Mandeknya operasional ini merupakan imbas langsung dari aksi militer intensif antara AS dan Iran yang terjadi sepanjang akhir Juli hingga awal Agustus.
Selat Hormuz menjadi titik fokus paling krusial bagi industri energi global tahun ini. Jalur perdagangan strategis tersebut menyumbang sekitar 20% dari total konsumsi minyak dunia sebelum perang pecah pada akhir Februari lalu.
Situasi kian pelik setelah kelompok Houthi Yaman yang didukung Iran ikut memperluas jangkauan konflik. Mereka mulai menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan jalur pengiriman minyak vital lainnya.
Di tengah buntunya negosiasi antara AS dan Iran, fokus pelaku pasar kini mulai bergeser pada sinyal-sinyal penurunan konsumsi minyak mentah global dalam beberapa bulan ke depan.
Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bersama Badan Energi Internasional (IEA) kompak memangkas proyeksi permintaan minyak untuk tahun 2026. Revisi turun ini tertuang dalam laporan bulanan terbaru masing-masing lembaga yang rilis pada Rabu kemarin.
OPEC memotong estimasi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 menjadi hanya 580.000 barel per hari. Angka ini sekaligus menandai koreksi penurunan untuk keempat kalinya sepanjang tahun ini.
Terpisah, IEA justru memproyeksikan penurunan permintaan minyak sebesar 1,6 juta barel per hari tahun ini. Proyeksi teranyar IEA tersebut berbalik arah dari estimasi sebelumnya yang memperkirakan adanya pertumbuhan sebesar 1 juta barel per hari.
“Kedua lembaga tersebut mencatat kekhawatiran atas melambatnya pertumbuhan ekonomi, terbatasnya pasokan bahan bakar, dan kenaikan harga yang dipicu oleh perang Iran,” tulis laporan tersebut.
Sentimen negatif yang menekan harga minyak kian diperparah oleh rilis data persediaan domestik AS. Pasar dikejutkan oleh lonjakan stok minyak mentah AS sebesar 17,4 juta barel pada pekan lalu.
Menariknya, data sekunder justru menunjukkan penurunan tajam pada Cadangan Minyak Strategis (Strategic Petroleum Reserve/SPR) milik pemerintah Washington. Sejauh ini, AS memang terpantau agresif menguras tangki SPR mereka sepanjang tahun ini demi meredam guncangan pasokan (supply shock) yang dipicu oleh konflik berkepanjangan dengan Iran.
- Penulis: admin


