Kembali ke Yogyakarta: Dari Pangkalpinang, Pangkal Kemenangan Perjuangan
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 16 Agu 2025
- visibility 166
- comment 0 komentar

(Sumber gambar: Kenang Mengenang Meraih Kemenangan, Akhmad Elvian & Ali Usman)
Kembali ke Yogyakarta: Dari Pangkalpinang, Pangkal Kemenangan Perjuangan
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH (Sejarawan dan Budayawan, Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia).
Pelaksanaan butir pertama dari Perjanjian Roem–Royen menjadi titik balik penting bagi Republik Indonesia. Pada 6 Juli 1949, Presiden Soekarno bersama rombongan resmi kembali ke Yogyakarta dari pengasingan di Pulau Bangka.
Sebelum berangkat, Bung Karno berpamitan kepada masyarakat Pangkalpinang dan Bangka di Balai Gemeente (kini berseberangan dengan Masjid Al-Muhajirin, Jalan KH. Hasan Basri Sulaiman). Dalam momen penuh haru itu, ia mengucapkan kalimat yang kelak dikenang sebagai peneguh semangat bangsa:
“Dari Pangkalpinang Pangkal Kemenangan Bagi Perjuangan.”
Hari Terakhir di Bangka
Sejak pagi, Rabu 6 Juli 1949, Kota Pangkalpinang tampak sibuk. Rakyat Bangka, pejabat Belanda, dan tokoh-tokoh lokal berbondong-bondong menuju Lapangan Udara Kampung Dul. Di sana, sebuah pesawat dari Jakarta mendarat membawa Delegasi Republik yang dipimpin Maria Ulfah Santoso bersama Dr. Darmasetiawan, Prof. Supomo, dan Mr. Sudjono.

(Sumber gambar: Kenang Mengenang Meraih Kemenangan, Akhmad Elvian & Ali Usman)
Para pemimpin Republik yang selama 197 hari ditahan di Bangka, di antaranya Soekarno, Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, Mohammad Rum, Ali Sastroamijoyo, Mr. Assaat, Mr. AG. Pringgodigdo, dan Komodor Suryadarma, akhirnya meninggalkan pulau itu dengan iringan doa rakyat Bangka yang sangat mencintai Indonesia.
Disambut Meriah di Yogyakarta
Pesawat UNCI yang membawa para pemimpin bangsa mendarat di Lapangan Udara Maguwo pukul 13.00 WIB. Sambutan rakyat Yogyakarta luar biasa meriah. Dari Maguwo hingga Istana Negara, jalan-jalan penuh sesak. Tak hanya di pinggir jalan, rakyat bahkan memanjat atap rumah dan pepohonan demi melihat sekilas pemimpin yang mereka rindukan.
Bung Karno, Bung Hatta, dan rombongan disambut dengan pelukan hangat rakyat Yogya, sebuah penegasan bahwa Republik masih berdiri tegak di hati rakyatnya (SESKOAD, 1991:313, 316).
Kembalinya Jenderal Sudirman
Empat hari berselang, pada 10 Juli 1949, Panglima Besar Jenderal Sudirman yang selama tujuh bulan bergerilya dengan ditandu, memasuki kembali Kota Yogyakarta. Pertemuan bersejarah antara Sudirman dan Soekarno berlangsung penuh sukacita. Kedua pemimpin besar bangsa itu berpelukan erat, menandai bersatunya kembali kekuatan politik dan militer Republik.
Finalisasi Perjanjian Roem–Royen
Untuk menuntaskan keabsahan hasil Perundingan Roem–Royen, pada 13 Juli 1949 di Jakarta digelar pertemuan antara para pemimpin kelompok Bangka dengan Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI).
Dalam pertemuan itu, diputuskan bahwa keputusan akhir diserahkan kepada Kabinet, Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), serta pimpinan angkatan perang. Pada hari yang sama, Mr. Sjafruddin Prawiranegara mengembalikan mandatnya kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta, menandai berakhirnya masa darurat pemerintahan di Sumatra.
Kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta, dan para pemimpin bangsa ke Yogyakarta bukan sekadar peristiwa sejarah. Ia menjadi simbol kemenangan diplomasi dan semangat perjuangan rakyat Indonesia.
Dirgahayu Republik Indonesia.
17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025.
- Penulis: admin


