PT Timah dan Alobi Foundation Sulap Lahan Eks Tambang jadi Tempat Rehabilitasi Satwa
- account_circle
- calendar_month Jum, 4 Okt 2024
- visibility 104
- comment 0 komentar

DOORSTOP.ID (PANGKALPINANG) – Dalam menjaga ekosistem global dan lingkungan, satwa memiliki peranan penting. Sebagai perusahaan yang beroperasi di sektor tambang, PT Timah menyadari pentingnya menjaga keseimbangan antara kegiatan operasional dengan upaya pelestarian lingkungan.
Sejalan dengan prinsip penambangan berkelanjutan, PT Timah terus melakukan berbagai inisiatif untuk melindungi dan melestarikan satwa di wilayah operasionalnya. Salah satu bentuk nyata komitmen PT Timah dalam melestarikan satwa, yakni dengan menjalin sinergi dengan Alobi Foundation
Dari sinergi tersebut, anggota holding industry pertambangan MIND ID itu mendirikan kawasan Pusat Penyelematan Satwa (PPS) bernama Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, yang merupakan kawasan lahan bekas tambang yang dikelola oleh PT Timah, dengan luas 4 hektar.
Yang mana, sejak tahun 2028 lalu, PT Timah bersama Alobi Foundation telah merehabilitasi ratusan satwa yang dilindungi, baik itu yang berasal dari penegakan hukum, serahan masyarakat maupun hasil rescue.
Dalam perjalanannya, kawasan yang mengusung konsep edu eco tourism yang terintegrasi dengan sektor pertanian, peternakan, perkebunan itu, berisikan puluhan kandang satwa, dengan suasana yang dibuat bak habitat asli mereka. Pepohonan rimbun, tanaman buah yang bisa menjadi pakan alami para satwa yang direhabilitasi menjadi ciri khas.
Manager PPS Alobi Air Jangkang, Endy R Yusuf menerangkan, Kawasan PPS Kampoeng Reklamasi Air Jangkang digunakan untuk merehabilitasi satwa yang bersifat sementara.
Menurutnya, proses rehabilitasi satwa liar dilakukan guna mengembalikan insting liar dari satwa-satwa yang ada. Setelah siap, lanjut Endy, satwa-satwa itu akan kembali dilepasliarkan ke habitat aslinya.
Lebih lanjut, Endy menerangkan, di kawasan Kampoeng Reklamasi Air Jangkang, dibangun sekitar 37 kandang, menara pantau, kantor, klinik dan beragam fasilitas lainnya, yang kesemuanya dibangun oleh PT Timah.
Endy melanjutkan, sejumlah satwa yang pernah direhabilitasi di kawasan tersebut antara lain, beruang madu, kakak tua, burung merak, rusa sambar, owa, kukang, mentilin dan beragam satwa lainnya, termasuk hewan endemik Bangka Belitung.
“Jadi, satwa yang telah selesai direhabilitasi akan dilepasliarkan kembali ke habitat asli mereka. Sehingga bisa menjaga pelestarian satwa di alam,” kata Endy dalam keterangannya, yang diterima redaksi, Jumat (4/10/2024).
“Saat ini hampir semua kandang dipenuhi oleh satwa, apalagi saat ini interaksi negatif satwa dengan masyarakat di Bangka Belitung cukup tinggi terutama buaya karena rusaknya ekosistem akibat tambang illegal,” imbuhnya.
“Beberapa bulan ini, hewan endemik Bangka Belitung, kukang banyak yang diserahkan ke kita, karena ada interaksi negatif satwa dan manusia. Satwa ini keluar dari habitatnya karena ekosistemnya terganggu. Termasuk buaya yang jumlah kasusnya terus meningkat,” imbuhnya lagi.
Lebih lanjut, Endy menjelaskan, di PPS Alobi mereka melakukan konservasi yang merupakan upaya untuk mempertahankan eksistensi satwa di alam. Karena keberadaan satwa liar sangat penting untuk menjaga alam.
“PT Timah sejak tahun 2018 masih konsisten mensupport kegiatan di PPS Alobi. Penambangan berdampak pada ekosistem lingkungan tapi bisa dijalankan konsep apa yang kita ambil apa yang kita beri. Sumber daya alam timah dibutuhkan untuk berbagai industri, termasuk teknologi yang kita gunakan,” terangnya.
Kendati demikian, menurut Endy penambangan timah harus dilakukan dengan menerapkan prinsip Good Mining Practices, mengedepankan prinsip penambangan hijau sehingga dampak lingkungan dapat diminimalisasi.
“PPS Alobi adalah reklamasi bentuk lainnya yang dilakukan PT Timah, artinya PT Timah sebagai perusahaan pertambangan melakukan tanggung jawabnya untuk melakukan konservasi satwa liar yang dilindungi,” jelasnya.
Berkenaan dengan momen Hari Hewan Sedunia, Endy berharap semua pihak dapat bersama-sama melestarikan satwa liar, karena satwa juga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup di habitat aslinya.
“Tantangannya saat ini adalah bagaimana kita meningkatkan kesadaran bahwa satwa harus dilindungi, ekosistemnya harus dijaga, semua pihak harus concern terhadap ini. Karena saat ini kita juga telah merasakan dampaknya jika ini diabaikan,” tukasnya.
Sumber: www.timah.com
- Penulis:


