MIND ID dan Kemendiktisaintek Sulap Ampas Timah Jadi Bahan Baku Nuklir dan EV
- account_circle admin
- calendar_month Sen, 2 Mar 2026
- visibility 84
- comment 0 komentar

MIND ID dan Kemendiktisaintek Sulap Ampas Timah Jadi Bahan Baku Nuklir dan EV
DOORSTOP.ID, JAKARTA — PT Mineral Industri Indonesia (Persero) atau MIND ID kini tidak lagi memandang limbah timah sebagai sisa produksi semata. Berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Holding BUMN Pertambangan ini sukses menuntaskan riset strategis, yakni menyulap limbah timah menjadi Logam Tanah Jarang (LTJ) yang bernilai selangit.
Fokus riset ini menyasar monasit, kandungan dalam limbah timah yang selama ini terabaikan. Padahal, di balik wujudnya yang “sampah”, monasit menyimpan harta karun berupa torium, uranium, hingga neodimium.
“Kita mengejar bisnis bernilai tinggi melalui hilirisasi limbah. Sebagian limbah kita mengandung monasit yang sangat potensial,” ujar Dirjen Riset dan Pengembangan Kemendiktisaintek, Faudzan Adziman, dalam sosialisasi PP No. 40/2025 pada akhir pekan lalu.
Faudzan menjelaskan, neodimium adalah kunci bagi industri masa depan karena kekuatannya sebagai magnet permanen pada baterai kendaraan listrik (EV). Sementara itu, torium dan uranium akan diproyeksikan sebagai bahan bakar masa depan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah telah mematok target ambisius dalam Kebijakan Energi Nasional (KEN), di mana tenaga nuklir diharapkan menyumbang 11,7% hingga 12,1% dari bauran energi nasional pada 2060.
MIND ID Percepat Hilirisasi
Senada dengan ambisi tersebut, Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menegaskan komitmen perseroan untuk memacu hilirisasi minerba. Baginya, PP No. 40/2025 adalah mandat untuk mewujudkan ketahanan energi yang stabil dan terjangkau.
“Energi harus selalu tersedia, aman, dan harganya stabil. Kami memastikan kebutuhan industri dan masyarakat tercukupi, sambil tetap berjalan di jalur transisi energi,” tegas Maroef.
MIND ID sendiri mencatat konsumsi energi grup mencapai 46 juta gigajoule, dengan porsi energi terbarukan (PLTA dan PLTS) sudah menyentuh angka 39%. Ke depan, Maroef berharap Dewan Energi Nasional dapat memperlancar sinkronisasi kebijakan lintas sektoral, terutama terkait perizinan, guna memuluskan proyek-proyek strategis ini.
Lampu Hijau untuk 17 Riset Strategis
Tak berhenti di timah, Kemendiktisaintek saat ini tengah menggodok 17 proposal riset mineral kritis lainnya. Proyek ini melibatkan berbagai perguruan tinggi dengan PT Timah Tbk (TINS) sebagai mitra utama.
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, I Ketut Adnyana, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan pendanaan khusus untuk kajian strategis ini.
“Naskah akademik dari riset ini akan menjadi landasan kuat bagi hilirisasi lanjutan mineral kritis di Indonesia,” ujarnya di sela gelaran Minerba Convex 2025 yang lalu.
- Penulis: admin


