DEN: Transisi Energi Butuh Mineral Kritis, Pengembangan PLTN Signifikan
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 3 Mar 2026
- visibility 58
- comment 0 komentar

Keberhasilan Kebijakan Energi Nasional Tak Terlepas dari Keseimbangan Pasokan dan Permintaan
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Dewan Energi Nasional (DEN) menegaskan percepatan transisi energi nasional membutuhkan dukungan kuat sektor mineral dan batubara (minerba), terutama dalam penyediaan mineral kritis untuk pengembangan energi bersih, termasuk pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Sekretaris Jenderal DEN, Satya Yudha, mengatakan arah transisi energi sebagaimana tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) menunjukkan peningkatan signifikan porsi energi surya dan PLTN hingga 2060.
“Jika melihat peta transisi energi dalam PP KEN, energi surya akan memiliki porsi sangat besar, dan PLTN juga signifikan pada 2060. Dengan begitu, kebutuhan mineral untuk baterai dan komponen pendukungnya berada di sektor minerba. Itu mendukung langsung transisi energi,” ujar Satya dalam keterangannya.
Menurut dia, keterkaitan antara kebijakan energi nasional dan sektor minerba bersifat dua arah. Mineral kritis seperti nikel, bauksit, dan tembaga menjadi bahan baku utama teknologi energi bersih.
Sebaliknya, proses hilirisasi minerba membutuhkan pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.
“Smelter tidak mungkin berjalan tanpa listrik. Ke depan kita berbicara listrik yang lebih hijau dan berkelanjutan. Jadi sektor energi dan minerba ini saling menopang,” kata dia.
Satya menambahkan, skenario KEN terbaru tidak hanya berbicara mengenai bauran pembangkit, tetapi juga kesiapan rantai pasok mineral strategis yang menopang teknologi energi bersih.
Peningkatan kapasitas pembangkit surya, pengembangan PLTN, serta sistem penyimpanan energi diproyeksikan mendorong kenaikan permintaan mineral strategis.
Ia menyebut sektor minerba berada di jantung ekosistem transisi energi nasional karena berperan sebagai penyedia bahan baku utama bagi industri energi bersih.
Dalam konteks itu, holding industri pertambangan BUMN, MIND ID, dinilai memiliki posisi sentral dalam memastikan ketersediaan dan pengolahan mineral kritis untuk mendukung transformasi energi.
Satya menegaskan, keberhasilan kebijakan energi nasional tidak terlepas dari keseimbangan pasokan dan permintaan.
Industri disebut sebagai pengguna energi terbesar sekaligus penyedia bahan baku strategis bagi transisi energi.
“Sehebat apa pun skenario energi nasional, itu tidak lepas dari supply dan demand. Industri adalah pengguna energi terbesar sekaligus penyedia bahan baku penting bagi transisi. Karena itu kolaborasi antara pembuat kebijakan dan pelaku industri menjadi sangat penting,” ujarnya.
Dengan target pertumbuhan ekonomi 8 persen dan komitmen menuju net zero emission 2060, penguatan ekosistem mineral kritis dinilai menjadi bagian integral dari strategi ketahanan energi nasional.
“Transisi energi ini bukan hanya soal mengganti sumber energi, tetapi juga membangun fondasi industrinya. Di situlah peran sektor minerba, termasuk MIND ID, menjadi strategis,” kata Satya. (*)
- Penulis: admin


