Reaktor Generasi Baru Jadi Pilihan Menarik untuk Pengembangan Nuklir di Indonesia
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 3 Mar 2026
- visibility 76
- comment 0 komentar

PLTN Fondasi Keamanan Energi Jangka Panjang
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) kembali menguat dalam kerangka ketahanan energi nasional dan percepatan transisi menuju energi rendah karbon.
Sejumlah akademisi menilai teknologi reaktor generasi terbaru menawarkan solusi yang lebih adaptif terhadap karakteristik geografis dan kebutuhan sistem kelistrikan Indonesia.
Pakar Energi dari Universitas Hasanuddin, Prof. Muhammad Bachtiar Nappu, menyebut PLTN sebagai fondasi keamanan energi jangka panjang.
Ia menyoroti pengembangan Small Modular Reactor (SMR) sebagai pendekatan yang lebih relevan dibanding reaktor konvensional berkapasitas besar.
Menurut Bachtiar, model modular memungkinkan pembangunan bertahap dengan kapasitas lebih kecil—misalnya 50 MW—sehingga lebih fleksibel untuk sistem kelistrikan di wilayah kepulauan.
Sebagai perbandingan, PLTN konvensional umumnya memiliki kapasitas sekitar 1.000 MW per unit.
Ia juga menilai Indonesia memiliki modal sumber daya yang signifikan, dengan potensi uranium dan thorium yang tersebar di Bangka Belitung, Kalimantan, hingga Mamuju.
Jika dikelola secara strategis, potensi tersebut dapat memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil.
Dukungan serupa disampaikan Andi Jumardi dari Sekolah Tinggi Teknologi Minyak dan Gas Bumi Balikpapan.
Ia menyebut nuklir sebagai opsi energi jangka panjang yang ekonomis, terutama bagi negara dengan populasi besar dan kebutuhan listrik yang terus meningkat.
Ia juga menanggapi kekhawatiran publik terkait aspek keselamatan. Menurutnya, insiden seperti di Fukushima Daiichi Nuclear Power Plant terjadi akibat bencana alam ekstrem (force majeure), dan sejak itu standar keselamatan serta desain reaktor terus mengalami peningkatan signifikan, termasuk penguatan sistem proteksi pasif.
Peneliti Laboratorium Rekayasa Termal dan Sistem Energi (RTSE) Institut Teknologi Sepuluh November, Ary Bachtiar Krishna Putra, menekankan keunggulan nuklir dari sisi densitas energi dan stabilitas pasokan.
Dengan volume bahan bakar yang relatif kecil, PLTN mampu menghasilkan listrik dalam jumlah besar secara kontinyu (baseload).
Dari aspek emisi, pembangkitan nuklir tidak menghasilkan karbon dioksida dalam proses operasinya, sehingga masuk dalam kategori energi bersih secara operasional.
Ary menilai tantangan utama pengembangan PLTN di Indonesia lebih bersifat non-teknis, seperti penentuan lokasi, kesiapan infrastruktur pendukung, integrasi dengan kawasan industri, serta penerimaan publik.
Proyek Thorcon di Bangka Belitung
Di tengah dukungan akademik, inisiatif konkret datang dari sektor swasta melalui rencana pembangunan PLTN Thorcon 500 di Pulau Kelasa, Kabupaten Bangka Tengah. Proyek ini digagas oleh PT Thorcon Power Indonesia.
Saat ini, proyek masih berada pada tahap perizinan awal berupa Izin Tapak. Pada 30 Juli 2025, perusahaan memperoleh persetujuan dokumen Persetujuan Evaluasi Tapak dan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak (PET-SMET) dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir melalui Laporan Evaluasi Keselamatan Nomor 20/LEK/DPIBN/L25.
Persetujuan ini menjadi dasar untuk penelitian dan pemantauan lanjutan sebelum pengajuan izin berikutnya.
Thorcon mengusung teknologi Molten Salt Reactor (MSR), yakni reaktor generasi keempat yang pertama kali dikembangkan oleh Oak Ridge National Laboratory pada 1960-an.
MSR menggunakan garam cair sebagai pendingin sekaligus media bahan bakar, sehingga beroperasi pada tekanan rendah dengan efisiensi termal lebih tinggi dibanding reaktor air bertekanan.
Desain ini memiliki karakteristik keselamatan inheren (inherent safety), antara lain karena tidak bergantung pada tekanan tinggi dan memungkinkan sistem pembuangan panas pasif.
Selain itu, teknologi MSR membuka peluang pemanfaatan thorium sebagai alternatif bahan bakar.
Pendekatan manufaktur Thorcon juga berbeda dari proyek nuklir konvensional. Struktur utama reaktor dirancang untuk diproduksi di galangan kapal menggunakan teknik industri berat seperti panel line fabrication dan robotic welding, kemudian dikirim melalui laut ke lokasi operasi.
Model ini diklaim mampu mengurangi risiko konstruksi di lapangan, mempercepat jadwal pembangunan, serta memberikan kepastian biaya melalui skema fixed price dan fixed schedule.
Dengan kapasitas 500 MW (2 x 250 MW), Thorcon diposisikan sebagai model skala menengah yang lebih cepat direplikasi dibanding proyek nuklir raksasa.
Dalam konteks pertumbuhan kebutuhan listrik nasional dan target dekarbonisasi, reaktor generasi baru seperti SMR dan MSR dinilai semakin relevan sebagai opsi strategis penyedia listrik baseload yang stabil, rendah emisi, dan berkelanjutan. (*)
- Penulis: admin


