DPN Tekankan Peran Strategis PLTN untuk Energi dan Pertahanan
- account_circle admin
- calendar_month Jum, 1 Mei 2026
- visibility 99
- comment 0 komentar

PLTN Dinilai Mampu Jadi Baseload yang Stabil
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Dewan Pertahanan Nasional (DPN) menilai pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai langkah strategis untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus menopang sistem pertahanan nasional
Deputi Bidang Geoekonomi DPN, Yayat Ruyat, mengatakan energi nuklir tidak semata urusan penyediaan listrik, melainkan terkait langsung dengan kepentingan strategis negara.
“PLTN berkaitan dengan kedaulatan, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa,” ujar Yayat dalam forum PYC Talks Vol. II di Jakarta Selatan, Selasa (28/4/2026).
Forum yang diselenggarakan Purnomo Yusgiantoro Center itu mengangkat isu penerimaan publik, komunikasi risiko, hingga mitigasi bencana dalam program energi nuklir Indonesia.
Menurut Yayat, dari perspektif pertahanan, pembangunan PLTN mensyaratkan sistem keamanan berlapis.
Pengamanan tersebut, kata Yayat, mencakup perlindungan fisik instalasi, keselamatan teknis, keamanan siber, serta kepatuhan terhadap prinsip non-proliferasi.
Ia juga menyoroti tantangan geografis Indonesia yang berada di kawasan rawan bencana, mulai dari aktivitas seismik, tsunami, hingga gunung berapi.
Karena itu, lanjut dia, desain PLTN harus memenuhi standar keselamatan tinggi, termasuk penerapan sistem keselamatan pasif dan kesiapsiagaan darurat.
“Transparansi komunikasi publik berbasis bukti menjadi kunci untuk membangun kepercayaan masyarakat,” kata dia.
Untuk diketahui, dari sisi energi, PLTN dinilai mampu menjadi sumber listrik dasar (baseload) yang stabi, sekaligus meningkatkan ketahanan terhadap gejolak pasokan energi global.
Sementara dalam konteks geopolitik, pengembangan nuklir membuka peluang kerja sama teknologi dengan negara lain, dengan tetap berada dalam kerangka pengawasan internasional.
Adapun secara ekonomi, investasi awal PLTN memang besar, namun dinilai efisien dalam jangka panjang karena biaya operasional relatif rendah dan umur pakai yang panjang.
Selain itu, proyek ini berpotensi mendorong pertumbuhan industri manufaktur, riset, serta menciptakan tenaga kerja berkeahlian tinggi.
Dalam forum itu, ditekankan pula bahwa pengembangan ekosistem nuklir nasional harus dilakukan secara terukur dan terintegrasi, mencakup penguatan regulasi, kelembagaan, sumber daya manusia, hingga penerimaan publik.
Forum tersebut turut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, industri, dan akademisi untuk membahas tantangan komunikasi dan mitigasi risiko dalam pengembangan energi nuklir di Indonesia. (*)
- Penulis: admin


