Karya Bhakti TNI: BWS Babel Pasang 1.000 Unit Biopori di Pangkalpinang
- account_circle
- calendar_month Sab, 19 Okt 2024
- visibility 64
- comment 0 komentar

DOORSTOP.ID (PANGKALPINANG) — Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung (Babel) secara aktif sosialisasikan pemasangan biopori dalam rangkaian kegiatan Karya Bhakti TNI ke-79, yang diselenggarakan oleh Kodim 0413 Bangka, wilayah teritorial Korem 045 Gaya, di Pasar Ikan, Pasir Putih Pangkalpinang pada Senin (14/10/2024).
Kepala Satuan Kerja OP BWS Babel, Rudy Susilo, menjelaskan bahwa pemasangan biopori ini merupakan bagian dari program nasional yang mencakup 1.000 unit biopori yang akan dipasang di berbagai lokasi di Pangkalpinang yang bertujuan untuk mengatasi banjir, terutama di wilayah yang memiliki kontur tanah cekung dan datar.
“Biopori merupakan program nasional, ada 1.000 unit untuk di Kota Pangkalpinang,” jelas Rudy.
Pemasangan biopori di Pangkalpinang ini difokuskan pada area-area utama seperti sekolah, fasilitas umum, halaman rumah, ruang terbuka, taman kota dan lahan pertanian yang rawan banjir.
“Dengan adanya biopori ini, banjir bisa lebih cepat terserap ke dalam tanah, sehingga bisa segera teratasi,” ungkap Rudy.
“Untuk di wilayah Pangkalpinang lebih dominan pemasangan (penanaman) biopori di area yang rawan,” imbuhnya.
Ia juga menekankan pentingnya pemasangan biopori di halaman rumah, terutama pada area yang sering terjadi banjir. Ia juga mengingatkan agar sumur-sumur yang ada di rumah tidak ditutup.
Menurutnya, jika sumur tertutup, air akan tertahan di permukaan dan tidak dapat meresap dengan baik ke dalam tanah, sehingga akan memperparah masalah.
Menghadapi musim hujan, khususnya di bulan Desember yang dikenal sebagai puncak perubahan cuaca, biopori sangat penting untuk mencegah banjir di Pangkalpinang. Dikarenakan Pangkalpinang memiliki karakteristik tanah yang datar dan banyak cekungan, sehingga air cenderung tidak mengalir dengan lancar.
“Dengan keterbatasan sistem drainase yang ada, pemasangan biopori menjadi solusi yang efektif untuk mengurangi banjir,” ujarnya.
“Yang paling difikirkan pada saat masa puncak (bulan Desember). Apalagi di Pangkalpinang ini landai dan berupa cekungan karena airnya tidak bergerak, sedangkan saluran air terbatas,” tambahnya.
Selain sebagai solusi untuk mengatasi banjir, biopori juga berfungsi sebagai sarana untuk menyimpan air ke dalam tanah.
“Biopori membantu air untuk terserap lebih cepat, sehingga mengurangi risiko banjir lokal, selain itu juga dapat dimanfaatkan untuk keperluan pemupukan organik,” paparnya.
Di mana, lanjut dia, lubang biopori dapat digunakan untuk menampung daun-daun kering atau sisa-sisa tanaman.
“Setelah daun-daun ini membusuk dan berubah menjadi humus, hasilnya bisa digunakan sebagai pupuk alami yang baik untuk tanaman,” jelasnya lagi.
Untuk ukuran lubang biopori yang ideal, Rudy menyebutkan bahwa kedalaman lubang berkisar antara 80 hingga 100 cm. Kedalaman ini cukup untuk memastikan air dapat terserap dengan baik ke dalam tanah dan daun-daun yang dimasukkan ke dalam lubang dapat terurai secara alami.
“Sejauh ini, pemasangan biopori di Pangkalpinang sudah dilakukan di beberapa sekolah, antara lain SMAN 3 Pangkalpinang, SMKN 4 Pangkalpinang, dan SDN 36 Pangkalpinang,” tuturnya.
Pemasangan di sekolah-sekolah ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi masyarakat umum untuk ikut berpartisipasi dalam program pemasangan biopori, terutama di lingkungan rumah masing-masing.
Tidak hanya di Kota Pangkalpinang, program pemasangan biopori ini juga telah diperluas ke daerah lain di Bangka Belitung, seperti di Kabupaten Bangka dan Bangka Barat.
“Dengan semakin banyaknya lubang biopori yang dipasang, diharapkan masalah banjir yang sering terjadi selama musim hujan bisa diminimalisir,” pungkasnya.
Secara keseluruhan, sosialisasi dan pemasangan biopori yang dilakukan oleh BWS Babel ini merupakan langkah konkret untuk mengatasi masalah banjir di wilayah Pangkalpinang dan sekitarnya.
Selain berfungsi untuk menyerap air ke dalam tanah, biopori juga memberikan manfaat tambahan berupa pengelolaan limbah organik yang dapat diubah menjadi pupuk.
Dengan memasang biopori di lokasi-lokasi yang strategis, baik di fasilitas umum, sekolah, maupun halaman rumah, masyarakat diharapkan dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan dan mengurangi dampak buruk dari genangan air.
- Penulis:


