BRIN dan UGM Kembangkan Sistem Energi untuk IKN, Kaji Pemanfaatan Reaktor Nuklir Modular dan Hidrogen Hijau
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 31 Mei 2026
- visibility 67
- comment 0 komentar

Fokus pada Perencanaan Energi Jangka Panjang, Riset Berlangsung Tiga Tahun
DOORSTOP.ID, YOGYAKARTA – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggandeng Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengembangkan sistem energi masa depan berbasis Nuclear Renewable Hybrid Energy System (NRHES) guna mendukung kebutuhan energi bersih di Ibu Kota Nusantara (IKN).
Salah satu fokus kajian dalam kerja sama ini adalah pemanfaatan Small Modular Reactor (SMR) atau reaktor modular kecil yang dinilai memiliki sejumlah keunggulan untuk mendukung pasokan listrik dan produksi hidrogen.
Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara Pusat Riset Teknologi Reaktor Nuklir (PRTRN) di bawah Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN dan Pusat Studi Energi (PSE) UGM, pada Selasa (12/Mei/2026).
Periset PRTRN BRIN, Rizki Firmansyah Setya Budi, mengatakan pengembangan IKN yang mengusung konsep kota modern dan berkelanjutan, membutuhkan dukungan sistem energi yang tidak hanya bersih dan andal, tetapi juga memiliki nilai keekonomian yang baik.
“Pengembangan IKN yang berkonsep bersih, modern, dan maju menuntut adanya dukungan pasokan energi yang andal dan bersih serta tidak mengesampingkan faktor keekonomiannya,” kata Rizki.
Menurut dia, riset yang dilakukan bersama UGM akan berfokus pada pengembangan sistem energi listrik dan hidrogen berbasis NRHES dengan mempertimbangkan aspek emisi karbon dioksida (CO2) serta ketersediaan pasokan air bersih.
NRHES merupakan sistem energi terintegrasi yang mengombinasikan tenaga nuklir, energi terbarukan, dan berbagai komponen pemanfaatan energi lainnya dalam satu sistem pengelolaan yang saling terhubung.
Dalam pengembangan konsep tersebut, BRIN menilai SMR berpotensi menjadi salah satu teknologi pendukung karena memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan pembangkit listrik tenaga nuklir konvensional dan dirancang secara modular.
“Penggunaan SMR memiliki banyak keunggulan, di antaranya memiliki ukuran yang lebih kecil dan modular. Selain itu juga dapat digunakan untuk kogenerasi, maka SMR dapat menjadi opsi dalam pengembangan energi di IKN,” ujar Rizki.
Fokus pada Perencanaan Energi Jangka Panjang
Rizki menjelaskan pemilihan PSE UGM sebagai mitra riset didasarkan pada pengalaman lembaga tersebut dalam bidang perencanaan energi.
Selain menghasilkan kajian teknis, kerja sama ini juga diharapkan menjadi sarana pertukaran pengetahuan antara peneliti nuklir dan perencana energi.
“Melalui kolaborasi riset ini diharapkan mampu menghasilkan pertukaran ilmu dan keahlian antara PRTRN sebagai ahli kenukliran dengan PSE sebagai ahli perencanaan energi,” katanya.
Sementara itu, Kepala PSE UGM, Sarjiya, menilai pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) tidak hanya berkaitan dengan aspek teknologi.
Menurut dia, implementasi PLTN juga dipengaruhi faktor penerimaan masyarakat, kondisi sosial-politik, serta dukungan regulasi yang memadai.
“UGM melalui kelompok riset di bidang sistem tenaga dan perencanaan energi juga membuka peluang kolaborasi bagi peneliti BRIN, termasuk pengembangan topik penelitian untuk program magister dan doktoral,” ujar Sarjiya.
Ia mengatakan fokus penelitian mencakup perencanaan energi jangka panjang, integrasi PLTN berbasis SMR, aspek operasional, hingga keselamatan sistem energi masa depan.
Riset Berlangsung Tiga Tahun
Kerja sama riset BRIN dan UGM direncanakan berlangsung selama tiga tahun. Kegiatan penelitian akan dilaksanakan di kawasan PRTRN BRIN di Kawasan Sains dan Teknologi B.J. Habibie, Tangerang Selatan, PSE UGM di Yogyakarta, serta wilayah Balikpapan dan kawasan IKN di Kalimantan Timur.
Melalui kolaborasi tersebut, kedua institusi menargetkan penguatan kapasitas nasional dalam perencanaan sistem energi terintegrasi sekaligus mendukung agenda transisi energi dan pengembangan energi bersih di Indonesia. (*)
- Penulis: admin


