Festival Nganggung di Tua Tunu Jadi Simbol Gotong Royong Warga Pangkalpinang
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 25 Agu 2026
- visibility 83
- comment 0 komentar

Festival Nganggung di Tua Tunu Jadi Simbol Gotong Royong Warga Pangkalpinang
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Pangkalpinang melalui Dinas Pariwisata menggelar Festival Nganggung bertajuk “1000 Pintu, 1000 Dulang” di Masjid Raya Tua Tunu, Selasa (25/8/2026), sebagai bentuk perayaan memperingati Hari Kelahiran Nabi Muhammad Shallallahu alaihi Wasallam (Maulid Nabi).
Acara budaya ini dihadiri langsung oleh Wali Kota Pangkalpinang Prof. Saparudin Masyarif, Sekda Budiyanto, Kapolresta Pangkalpinang AKBP Indra Wijatmiko, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ribuan warga yang memadati lokasi. Bersamaan dengan festival ini, Lembaga Adat Melayu (LAM) Tuatunu juga meluncurkan Kampung Zakat pertama di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Ketua LAM Tuatunu, H. Zulkifli Jais, menyatakan rasa bangganya atas antusiasme seluruh elemen masyarakat yang melebur menjadi satu dalam festival tahunan ini.
“Hari ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami masyarakat Tua Tunu karena semua rakyat, semua masyarakat se-Kota Pangkalpinang ini berjumpa di sini, hadir di sini, yaitu dalam rangka sama-sama kita memeriahkan Festival Nganggung tahun 2026 ini,” ujar Zulkifli dalam sambutannya.
Zulkifli menegaskan bahwa tradisi nganggung, yakni menyantap makanan bersama di dalam dulang (talam kuningan), bukanlah sekadar acara makan-makan, melainkan manifestasi nyata dari nilai persatuan tanpa memandang sekat sosial.
“Nganggung adalah suatu tradisi bagi masyarakat Melayu karena dengan nganggung inilah kita dapat bersama-sama duduk di sini. Kita sama-sama menganggung dengan makanan yang beraneka ragam corak budaya Melayu kita,” jelas Zulkifli.
“Oleh karena itu, menganggung adalah timbal dari persatuan dan kesatuan di antara kita. Dia adalah merupakan simbol kegotongroyongan di antara kita karena masyarakat semuanya apakah itu miskin, kaya, muda, tua tidak dibatasi oleh gender,” tambahnya.
Di tengah gempuran modernisasi, Zulkifli mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga warisan leluhur ini agar tidak tergerus oleh jaman.
“Adat istiadat inilah yang harus kita lestarikan karena terpaan globalisasi sekarang banyak budaya-budaya yang tidak bersahabat dengan kita. Maka mari kita mengangkat budaya lokal, kearifan lokal yang ada di Kota Pangkalpinang dan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung,” tambahnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Dinas Pariwisata dan 40 pengurus masjid di wilayah Tua Tunu yang sukses memfasilitasi acara ini.
Selain pelestarian budaya, momen ini juga menjadi tonggak sejarah baru bagi bidang sosial-keagamaan di Bangka Belitung dengan diresmikannya Kampung Zakat Kelurahan Tua Tunu Indah. Program hasil kolaborasi dengan BAZNAS Kota dan Provinsi ini diproyeksikan menjadi percontohan daerah sadar zakat.
“Pada hari ini juga insyaallah kami akan melaunching Kampung Zakat Kelurahan Tua Tunu Indah. Kampung zakat ini adalah merupakan pilot project, satu kampung yang akan gemar berzakat di Kota Pangkalpinang, dan ini yang dimulai dari Tuatunu ini dan Kepulauan Bangka Belitung,” kata Zulkifli.
Sementara itu, Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin Masyarif, menyambut hangat pelaksanaan festival ini. Ia memandang esensi terbesar dari tradisi 1000 Pintu, 1000 Dulang adalah ruang intim untuk memperkuat tali silaturahmi antarwarga.
“Sudah lama kita tidak bertemu, di sini kita bertemu kembali, bertatap muka, berjabat tangan, kita saling menyapa menanyakan kabar dengan satu kebersamaan kita dalam rangka pelaksanaan kegiatan nganggung,” ungkap Saparudin.
Saparudin juga menyampaikan rasa terima kasih mendalam kepada seluruh masyarakat, para tokoh agama, dan pengurus Masjid Raya Tua Tunu yang telah menyukseskan acara tersebut. Ia menekankan bahwa status sosial tidak berlaku saat semua orang duduk bersila di hadapan dulang.
“Festival nganggung ini adalah wujud kebersamaan kita selama ini. Mungkin kita berbeda tapi kita tetap bersama. Yang penting adalah kita bersama-sama di tempat ini duduk bersama-sama, bersimpuh bersama-sama, ngobrol bersama-sama, kita saling menyapa dalam rangka kebersamaan bersilaturahmi,” tutur Saparudin.
“Apa yang kita harapkan dari silaturahmi ini adalah bahwa hati kita bisa bersama, hati kita bisa berpaut sehingga di dalam kita melaksanakan kegiatan hari ini, kita melaksanakan ibadah-ibadah kita, kita saling bahu-membahu di dalam kebaikan,” sambungnya.
Lebih lanjut, Saparudin berharap agenda kebudayaan berbasis massa seperti ini terus dipertahankan demi menyokong sektor pariwisata daerah.
“Kita mengharapkan kegiatan-kegiatan seperti ini terus kita kembangkan, terus kita lakukan agar terus terjalin ukhuwah dan terjalin kebersamaan kita. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat, mempererat kebersamaan, dan menjadi bagian penting dari gerak langkah pembangunan pariwisata Kota Pangkalpinang ke depan,” pungkasnya.
- Penulis: admin


