Inovasi Sarang Cumi Paralon PT Timah dan HNSI Bangka, Solusi Hemat BBM Bagi Nelayan
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 6 Okt 2026
- visibility 39
- comment 0 komentar

Inovasi Sarang Cumi Paralon PT Timah dan HNSI Bangka, Solusi Hemat BBM Bagi Nelayan
DOORSTOP.ID, BANGKA — Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Bangka bersama PT Timah Tbk menebar 81 unit atraktor atau sarang cumi-cumi buatan di perairan Pantai Rambak, Kelurahan Jelitik, Kabupaten Bangka pada Selasa pagi (6/10/2026). Hal ini dilakukakn agar dapat memotong jarak tempuh nelayan tradisional sehingga mampu menghemat biaya operasional Bahan Bakar Minyak (BBM) secara signifikan.
Ketua HNSI Kabupaten Bangka, Lukman, mengungkapkan bahwa inovasi ini lahir dari keluhan para nelayan lokal yang selama ini harus melaut hingga belasan mil ke tengah laut hanya untuk mencari cumi-cumi. Kondisi tersebut membuat biaya BBM nelayan membengkak. Melalui pemasangan sarang buatan yang berjarak sangat dekat dari bibir pantai, mobilitas nelayan kini menjadi jauh lebih efisien.
“Kita buat atraktor ini supaya jaraknya lebih dekat, sebagaimana kita lihat tadi paling nggak sampai setengah mil ya. Itu mobilitas untuk nelayan agak singkat dan menghemat BBM mereka. Memang secara alami ada, tapi jangkauannya jauh. Nelayan kita pernah mengeluhkan bahwa sudah sampai belasan mil,” kata Lukman kepada wartawan.
Atraktor atau sarang cumi buatan yang disebut warga lokal dengan istilah “semampra” ini tidak dibuat sembarangan. HNSI Bangka dan PT Timah Tbk melibatkan akademisi dari Universitas Bangka Belitung (UBB) untuk melakukan riset kesesuaian habitat di perairan Pantai Rambak.
Berdasarkan rekomendasi ahli kelautan, kata Lukman, sarang cumi ini dibuat menggunakan pipa paralon agar tahan lama dan bebas korosi (karatan), lalu dipadukan dengan tali-tali bekas sebagai media penempelan telur cumi (lokel).
“Salah satunya kita bekerja sama dengan salah satu dosen UBB di kelautan. Mereka menyarankan bentuknya seperti ini, karena mereka juga punya pengalaman menyelam di daerah sini. Bahannya kita paralon supaya menghindari karat. Pipa paralon ini agak awet ya, dengan tali-tali bekas untuk tempat lokelnya,” jelas Lukman.
Selain itu, jumlah tali penempel telur di setiap unitnya dibatasi hanya empat utas. Menurut kajian ilmiah dosen UBB, cumi-cumi cenderung enggan bertelur apabila kondisi ruangan di dalam atraktor terlalu padat atau ramai.
HNSI Bangka memastikan proyek teknologi kelautan pertama mereka ini akan terus dipantau secara berkala guna memastikan efektivitasnya terhadap peningkatan populasi cumi-cumi di pesisir Bangka.
“Dalam RAB kita, agenda kita juga memang kita siapkan untuk pemantauan per dua bulan. Kami berharap bukan hanya sekadar seremonial, kami harap bermanfaat, benar-benar menyentuh masyarakat pesisir,” pungkas Lukman.
- Penulis: admin


