B-25 Mitchell: Pesawat Pembom yang Membawa Pemimpin Republik Indonesia ke Pengasingan di Bangka
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 13 Agu 2025
- visibility 273
- comment 0 komentar

Pesawat B-25 Mitchell yang kini tersimpan di Museum Dirgantara Mandala.
B-25 Mitchell: Pesawat Pembom yang Membawa Pemimpin Republik Indonesia ke Pengasingan di Bangka
Oleh: Dato’ Akhmad Elvian, DPMP, CECH. Sejarawan dan Budayawan Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia.
Pesawat pembom menengah B-25 Mitchell buatan North American Aviation (NAA), Amerika Serikat, tercatat dalam sejarah Indonesia sebagai saksi bisu pengasingan para pemimpin Republik Indonesia pasca Agresi Militer Belanda II.
Pesawat yang dinamai untuk menghormati Jenderal William “Billy” Mitchell, pelopor penerbangan militer AS ini, pada akhir 1948 digunakan oleh Belanda untuk memindahkan para tokoh republik dari Lapangan Terbang Maguwo, Yogyakarta menuju Lapangan Terbang Kampung Dul, Pulau Bangka, dan sebagian kemudian diterbangkan lagi ke Medan, Sumatera.
Pendudukan Yogyakarta dan Penangkapan Tokoh Republik
Pada 19 Desember 1948, pasukan Belanda melancarkan operasi militer besar-besaran, Operatie Kraai, yang berhasil menduduki Yogyakarta—ibu kota Republik Indonesia sejak 4 Januari 1946. Tujuan Belanda jelas: menghapuskan eksistensi Republik Indonesia dari peta politik dunia.
Tiga hari kemudian, 22 Desember 1948, para pemimpin RI yang ditahan di Istana Kepresidenan Yogyakarta digiring menuju Lapangan Udara Maguwo. Presiden Soekarno, Wakil Presiden Drs. Mohammad Hatta, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim masing-masing diangkut menggunakan satu jeep yang dikawal ketat tentara Belanda.
Sementara itu, Penasihat Presiden Sutan Sjahrir, Sekretaris Negara Dr. A.G. Pringgodigdo, Komodor Udara Suryadarma, dan Ketua KNIP Mr. Assaat dinaikkan ke sebuah truk dengan pengawalan dua tentara bersenjata.
Penerbangan Menuju Pengasingan
Sekitar pukul 10.00, pesawat pembom B-25 Mitchell milik Angkatan Udara Hindia Belanda lepas landas dari Yogyakarta dengan membawa tujuh tokoh republik tersebut.
Menurut catatan Mr. Assaat dalam surat Exiles on Menumbing tertanggal 15 Januari 1949, Dr. A.G. Pringgodigdo dan Suryadarma duduk di kokpit. Sementara Soekarno, Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan Assaat duduk di atas kotak-kotak kosong dekat ruang Markonis (operator radio) di bawah pengawasan seorang prajurit dan Mr. Van Hof, kepala bagian penyelidikan kejaksaan.
Penerbangan sempat singgah di Lapangan Udara Cililitan, Jakarta, selama satu jam. Di sini, Van Hof turun dan digantikan oleh orang lain. Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pangkalpinang.
Terpisah di Bangka dan Medan
Sekitar pukul 13.45, pesawat mendarat di Lapangan Udara Kampung Dul, Pangkalpinang. Di lokasi ini, Mohammad Hatta, Suryadarma, A.G. Pringgodigdo, dan Assaat diperintahkan turun. Sementara Soekarno, Agus Salim, dan Sutan Sjahrir tetap berada di dalam pesawat dan kembali mengudara menuju Medan.
Peristiwa ini menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan diplomasi Indonesia, menunjukkan bahwa meski para pemimpinnya diasingkan, semangat mempertahankan kemerdekaan tak pernah padam.
Dirgahayu Republik Indonesia. 17 Agustus 1945 — 17 Agustus 2025.
- Penulis: admin


