AKBP Maslikan: Dunia Maya Jadi Ladang Baru Rekrutmen Teroris
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 17 Jul 2025
- visibility 203
- comment 0 komentar

AKBP Maslikan: Dunia Maya Jadi Ladang Baru Rekrutmen Teroris
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Dunia maya kini bukan hanya menjadi ruang interaksi sosial, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ladang subur bagi kelompok teroris dalam merekrut anggota baru.
Fakta ini diungkap Kasatgas Densus 88 Antiteror Korwil Bangka Belitung, AKBP Maslikan, dalam sosialisasi wawasan kebangsaan yang digelar secara virtual oleh Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri Satgaswil Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (17/7/2025).
“Selama lima tahun terakhir, dari 2019 hingga 2024, tercatat 150 kasus penangkapan pelaku terorisme di Indonesia yang memanfaatkan media sosial sebagai alat komunikasi, propaganda, dan perekrutan,” ungkap AKBP Maslikan.
Menurutnya, platform yang paling sering digunakan oleh jaringan teroris adalah WhatsApp dan Telegram, disusul oleh Facebook dan sejumlah aplikasi alternatif lainnya. Penyebaran paham radikalisme dinilai semakin masif, terutama karena media sosial bersifat terbuka dan minim penyaringan konten.
“Media sosial memiliki kerawanan yang lebih besar dibanding media konservatif. Ini yang dimanfaatkan kelompok teroris untuk menjangkau generasi muda yang lebih aktif di dunia maya,” jelasnya.
Ia menambahkan, bahwa narasi kini menjadi senjata utama dalam strategi perang ideologi. Jika kelompok teror menggunakan internet untuk menyebar propaganda, maka masyarakat pun harus mampu melawan dengan narasi positif dan edukatif.
Pada konteks modernitas dan kemajuan internet, lanjutnya, narasi menjadi komoditas pengaruh yang substansial dan cukup kuat dalam perspektif kejahatan terorisme. Di satu sisi, internet dan media sosial cukup efektif sebagai propaganda narasi oleh pelaku terorisme. Namun di sisi lain, narasi juga menjadi alat utama dalam perlawanan terhadap terorisme.
“Di era digital, narasi adalah kekuatan. Maka kita tidak boleh kalah dalam menyampaikan pesan-pesan kebangsaan dan moderasi,” tegas Maslikan.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dan tidak sembarangan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Pasalnya, banyak konten menyesatkan yang berpotensi menjerumuskan seseorang ke dalam jaringan radikal tanpa disadari.
“Waspadai setiap informasi yang masuk. Jangan asal klik, apalagi langsung dibagikan. Bisa jadi itu bagian dari strategi propaganda,” imbaunya.
Ditegaskannya, dunia maya kini telah menjadi medan baru bagi perang ideologi. Untuk itu, kata dia, kolaborasi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mencegah penyebaran paham radikal, terutama di kalangan generasi muda yang rentan.
- Penulis: admin


