Dody Kusdian Angkat Isu Pendidikan, Dorong Perencanaan Serius hingga Payung Hukum saat Reses di Ad-Dhuhaa
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 18 Sep 2025
- visibility 80
- comment 0 komentar

Dody Kusdian Angkat Isu Pendidikan, Dorong Perencanaan Serius hingga Payung Hukum saat Reses di Ad-Dhuhaa
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Ketua Komisi II DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Dody Kusdian, menjadikan pendidikan sebagai fokus utama dalam Reses masa sidang III tahun 2025 di LKSA/Panti Asuhan Ad-Dhuhaa, Kecamatan Gerunggang, Pangkalpinang, Kamis (18/9/2025).
Menurut Dody, isu pendidikan dipilih karena sejalan dengan prioritas pembangunan daerah yang ditetapkan Gubernur, yakni pendidikan, kesehatan, dan ekonomi.
“Dalam reses ini kita mengambil tema khusus terkait dunia pendidikan. Harapannya sesuai dengan prioritas Pak Gubernur, salah satunya pendidikan. Kenapa kita ingin bedah dulu? Karena guru-guru inilah ujung tombak di lapangan yang tahu permasalahan sebenarnya,” ujarnya.

Ia menekankan, hasil diskusi bersama para guru dan stakeholder akan dipetakan dan dimasukkan ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, mulai dari RKPD, SIPD, hingga RPJMD lima tahun mendatang.
Dody menyoroti rendahnya rata-rata lama sekolah masyarakat Babel yang hanya 8,3 tahun.
“Problem Babel hari ini dengan rata-rata lama sekolah hanya 8,3 tahun menunjukkan kita harus serius. Bahkan, pendidikan kita sangat jauh tertinggal dibanding provinsi lain, bisa dibilang di urutan buntut,” tegasnya.
Padahal, kata Dody, banyak putra-putri daerah yang cerdas, namun kualitas pendidikan justru terpuruk. Karena itu, ia sengaja menghadirkan Sekda, Bappeda, Disdikbud, dan stakeholder lain agar benar-benar serius memperhatikan sektor ini.

Pj Sekda Babel, Fery Afriyanto saat menjawab pertanyaan peserta reses. (Foto: Heri K)
Selain masalah kualitas, Dody juga menyoroti degradasi moral di sekolah.
“Banyak kasus bullying, masalah akhlak, hingga persoalan moral di Pangkalpinang. Ini sangat jauh dari tujuan pendidikan dalam Undang-Undang, yaitu mencetak generasi beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia,” katanya.
Ia menekankan perlunya kolaborasi tiga stakeholder utama yaitu orang tua, guru, dan sekolah.
“Kalau kita ingin pendidikan berkualitas, tidak mungkin hanya mengandalkan pendidikan gratis. Orang tua yang mampu harus ikut berperan melalui komite sekolah, sedangkan yang miskin wajib dibantu negara,” jelasnya.
Dody juga mendorong adanya regulasi yang menjembatani sinergi dunia pendidikan dengan dunia usaha.
“Banyak pelaku usaha di Babel tapi tidak merekrut tenaga kerja lokal. Maka kami berharap ada perda atau regulasi yang bisa memayungi kepentingan pendidikan, agar dunia usaha ikut mendukung peningkatan SDM kita,” tutupnya.
- Penulis: admin


