Kenaikan Drastis Pengangguran di Indonesia: Kepulauan Bangka Belitung Teratas dengan Lonjakan 5.375,76%
- account_circle
- calendar_month Sen, 23 Sep 2024
- visibility 97
- comment 0 komentar

DOORSTOP.ID (JAKARTA) — Krisis pengangguran di Indonesia semakin mengkhawatirkan. Penutupan sejumlah pabrik dalam negeri telah mendorong angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) ke tingkat yang tinggi, yang berdampak langsung pada melemahnya daya beli masyarakat dan berpotensi memperburuk perekonomian nasional.
Menurut data terbaru dari Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), terjadi lonjakan jumlah pekerja yang ter-PHK pada Agustus 2024. Angka tersebut melonjak 23,72% menjadi 46.240 orang, dibandingkan 37.375 orang pada periode yang sama tahun lalu.
Dalam analisis tahunan, lima provinsi menunjukkan peningkatan signifikan dalam jumlah tenaga kerja yang ter-PHK.
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mencatatkan kenaikan tertinggi, dengan jumlah pekerja ter-PHK meningkat 5.375,76% menjadi 1.807 orang dari hanya 33 orang pada Agustus 2023.
Di urutan kedua, Sulawesi Tenggara mencatatkan kenaikan 672,5%, diikuti oleh Sumatera Barat dengan peningkatan 584,91%. DKI Jakarta dan Sumatera Utara juga mencatatkan kenaikan masing-masing sebesar 575,93% dan 498,89%.
Sektor yang paling terdampak adalah industri tekstil, yang mengalami banyak penutupan pabrik. Baru-baru ini, PT Sinar Panca Jaya di Semarang, yang beroperasi di sektor tekstil, dinyatakan bangkrut.
“PHK masih terus terjadi. Kemarin ada 340 orang yang terkena PHK di PT Sinar Panca Jaya. Jadi sekarang pabrik tersebut tutup total,” ungkap Ristadi, perwakilan perusahaan.
Pabrik ini sebelumnya mempekerjakan sekitar 3.000 orang, namun setelah mengalami penurunan permintaan, PHK dilakukan secara bertahap. Sekarang, sekitar 340 pekerja terpaksa kehilangan pekerjaan pada Agustus 2024, dan negosiasi mengenai pesangon masih berlangsung.
Ristadi menjelaskan bahwa pabrik ini memiliki pasar baik di dalam negeri maupun ekspor, tetapi saat ini tidak ada pesanan yang masuk.
“Produksi tidak terjual,” tambahnya.
Penutupan pabrik ini menambah daftar panjang industri tekstil yang terpaksa berhenti beroperasi sejak awal 2024.
Ristadi mengindikasikan bahwa data mengenai penutupan pabrik masih terus diperbarui, dan ia sedang melakukan pengecekan langsung ke daerah untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas.
Dampak dari PHK ini sangat menyedihkan bagi banyak pekerja. Kehilangan sumber penghasilan memicu masalah beruntun, mulai dari kesulitan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membayar biaya pendidikan anak dan cicilan utang.
Situasi ini menuntut perhatian serius dari semua pihak untuk mencari solusi yang efektif dalam mengatasi krisis pengangguran yang semakin memburuk.
- Penulis:


