Makam Oen Nyiem Foek, Jejak Sejarah Kapiten Tionghoa Pangkalpinang yang Terlupakan
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 8 Jul 2025
- visibility 135
- comment 0 komentar

Makam Oen Nyiem Foek, Jejak Sejarah Kapiten Tionghoa Pangkalpinang yang Terlupakan (Foto: Dato' Akhmad Elvian)
Makam Oen Nyiem Foek, Jejak Sejarah Kapiten Tionghoa Pangkalpinang yang Terlupakan
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Jejak sejarah peran komunitas Tionghoa di Pangkalpinang tak bisa dilepaskan dari sosok Oen Nyiem Foek. Namanya mungkin jarang terdengar di tengah ingar bingar kota, namun makam megahnya yang terletak di sisi selatan Jalan Utama Kompleks Pemakaman Sentosa Pangkalpinang ini, menyimpan kisah sejarah panjang dan penting.
Menurut sejarawan dan budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, makam Oen Nyiem Foek bukan hanya sekadar pusara, tetapi penanda peran elite Tionghoa dalam struktur pemerintahan kolonial di masa silam.
“Makam ini menjadi saksi sejarah pentingnya peran Kapiten Tionghoa dalam tatanan sosial dan administratif di Pangkalpinang. Dari prasasti pada bongpai (nisan batu), tertulis bahwa makam ini dipugar pada tahun keempat pemerintahan Sun Yat Sen, yakni sekitar 1915 Masehi,” jelas Dato’ Akhmad Elvian kepada redaksi doorstop.id, Selasa (8/7/2025) malam.
Oen Nyiem Foek wafat pada usia 83 tahun dan semasa hidupnya menjabat sebagai Kapitien der Chinezen Afdeling Pangkalpinang. Berdasarkan data resmi dalam Regeeringsalmanak voor Nederlandsch-Indie tahun 1893, pengangkatannya sebagai Kapiten terjadi pada 18 Desember 1879.
“Beliau merupakan tokoh penting dalam komunitas Tionghoa dan berasal dari keluarga Oen, yang telah menetap di Pulau Bangka sejak awal abad ke-18. Oen Nyiem Foek adalah generasi ketiga, keturunan dari Oen Men Chiew, yang makamnya berada di Kampung Besi atau Thiatfu, dekat Kelenteng Fuk Tet Che di Simpang Semabung,” ujar Elvian.
Leluhur tertuanya, Oen Chi Phin, datang dari daerah Liuk Fung ke Pulau Bangka sekitar tahun 1725–1733. Makam Oen Chi Phin diketahui berada di Kampong Tjoihin, Sungailiat.
Kompleks Pemakaman Tionghoa Sentosa, tempat makam Oen Nyiem Foek berada, mulai dibangun pada masa pemerintahan Residen CJ Mann sekitar tahun 1935. Didirikan oleh empat tokoh masyarakat Tionghoa—Yap Fo Sun, Chin A Heuw, Yap Ten Thiam, dan Lim Sui Cian—kompleks ini sekarang membentang seluas hampir 20 hektar di kawasan Bukit Abadi, Jalan Soekarno Hatta.
“Sebelum menjadi kompleks resmi, kawasan ini memang telah menjadi lokasi pemakaman orang Tionghoa sebagaimana terlihat pada peta topografi kolonial tahun 1928–1929. Bahkan sejak zaman Hindia Belanda, kawasan ini sudah dikenal dengan nama Tjhunghua Kung Mu Yen atau pemakaman Tionghoa,” ungkap Elvian.
Kini, kompleks makam yang juga dikenal sebagai Ngi Cung itu bukan hanya menjadi tempat peristirahatan terakhir ratusan tokoh Tionghoa, tetapi juga situs sejarah yang mencerminkan akulturasi, peran sosial, dan identitas komunitas Tionghoa di Bangka.
“Sayangnya, banyak generasi muda yang belum mengetahui nilai sejarah kompleks ini. Padahal, dari bongpai-bongpai tua seperti milik Oen Nyiem Foek, kita bisa belajar banyak tentang perjalanan sosial, budaya, dan politik masyarakat Tionghoa di Pulau Bangka,” pungkas Dato’ Akhmad Elvian.
- Penulis: admin


