Wali Kota Pangkalpinang Ajak Generasi Muda Jadi ‘Genmatic’ Melalui Kreasi dan Inovasi
- account_circle admin
- calendar_month 22 jam yang lalu
- visibility 49
- comment 0 komentar

Wali Kota Pangkalpinang Ajak Generasi Muda Jadi ‘Genmatic’ Melalui Kreasi dan Inovasi
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Kementerian Ekonomi Kreatif (Kementerian Ekraf) / Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI berkolaborasi dengan TikTok Shop by Tokopedia resmi membuka pelatihan digital bertajuk “Waktunya Start Jadi Genmatic” (Generasi Melek Teknologi) di Swiss-Belhotel Pangkalpinang, Selasa (27/10/2026).
Pemerintah Kota Pangkalpinang menyambut baik dan memberikan apresiasi tertinggi atas terselenggaranya acara yang menyasar langsung masyarakat Bangka Belitung, khususnya pelaku ekonomi kreatif di Pangkalpinang.
Hal demikian diungkapkan Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin Masyarif, dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan pelatihan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Kota Pangkalpinang, kami menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Ekonomi Kreatif melalui Ibu Yuana Rochma Astuti, Direktur Konten Digital di Kementerian Ekraf/Bekraf. Terima kasih sudah menyelenggarakan kegiatan ini, dan ini betul-betul dipersembahkan untuk masyarakat Bangka Belitung dan khususnya Kota Pangkalpinang,” ujar Saparudin.
Saparudin meyakini kehadiran para narasumber andal dalam pelatihan ini akan memperluas cakrawala pengetahuan para peserta. Namun, ia mengingatkan agar ilmu yang didapat tidak berhenti sebagai teori semata, melainkan wajib dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Tentu saja tidak terbatas dengan pengetahuan dan pemahaman. Semua apa yang kita peroleh nantinya harus dimaknai dan diimplementasikan di dalam kegiatan sehari-hari,” tegasnya.
Di kesempatan tersebut, Saparudin juga membagikan pengalamannya saat mulai berkecimpung di dunia IT pada tahun 1991. Ia menggambarkan betapa jauhnya lompatan teknologi dari masanya hingga ke era Artificial Intelligence (AI) yang kini dinikmati oleh Gen Z dan Gen Alpha.
“Saya berkecimpung di dunia komputer itu sejak tahun 1991. Kita masih menggunakan komputer yang namanya Weng, CPU-nya besar dan disk drive-nya masih pakai pita. Kalau kita bikin program pakai Basic, nge-trace program itu harus diprint panjang sampai sekian ratus meter dan memeriksa kesalahannya baris per baris di kertas,” kenangnya.
Ia menambahkan, transformasi tersebut bergerak cepat dari era personal computer (PC), bergeser ke mobile computing, hingga menyentuh teknologi kecerdasan buatan saat ini. Menurutnya, perubahan teknologi ini juga memangkas proses pembuatan aplikasi menjadi jauh lebih mudah dan efisien.
“Dulu ketika kami membuat aplikasi itu harus berbulan-bulan lamanya, bahkan kadang bertahun-tahun. Menemukan error saja bisa berminggu-minggu tanpa solusi. Hari ini, orang membangun aplikasi itu seperti membangun rumah susun, pintunya tinggal beli lalu pasang, jendelanya tinggal ambil lalu pasang. Begitu mudahnya,” jelas Saparudin.
Kemudahan ini, lanjut Saparudin, juga berdampak pada efisiensi biaya. Ia mencontohkan pembuatan proyek website zaman dulu yang bisa menembus angka Rp200 juta, kini dapat diselesaikan hanya dengan modal Rp2 juta atau bahkan bisa langsung memanfaatkan platform gratis yang tersedia.
“Hari ini website itu cuma perlu duit 2 juta sudah bisa bikin website sendiri. Bisa juga dengan mudah bikin akun di TikTok, bisa bikin akun di Tokopedia. Bapak-Ibu bisa punya akun dan punya lapak di Tokopedia. Ini adalah perkembangan teknologi,” imbuhnya.
Kemudahan pengembangan teknologi ini dibuktikan langsung oleh jajaran Pemkot Pangkalpinang. Saparudin mengungkapkan bahwa pihaknya sebulan yang lalu, meluncurkan Super App resmi Kota Pangkalpinang. Aplikasi terintegrasi tersebut berhasil diselesaikan hanya dalam waktu tiga bulan oleh tim internal Dinas Kominfo tanpa menggunakan pihak ketiga.
“Super App itu sudah kita launching satu bulan yang lalu. Bikinnya cuma tiga bulan dan yang bikin anak-anak di Kominfo, tidak ada yang pihak ketiga. Sekarang sudah terdaftar di App Store maupun Play Store dan sudah bisa dimanfaatkan oleh pemerintah maupun warga Kota Pangkalpinang,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa pemanfaatan platform digital seperti Tokopedia harus diimbangi dengan daya cipta yang kuat. Ia mengibaratkan kunci sukses menguasai teknologi dengan istilah lokal Bangka.
“Mantranya teknologi itu, kalau kata orang Bangka ‘jampiannya’, hanya dua yaitu kreasi, dan inovasi. Kalau mau berkreasi dan berinovasi, maka itulah yang bisa memegang dan menguasai teknologi,” kata Saparudin.
Ia mencontohkan inovasi sederhana bisa dimulai dari hal-hal kecil di sekitar, seperti mengubah tata letak ruang pertemuan agar interaksi pembicara dan audiens menjadi lebih dekat dan menarik.
“Hari-hari harus berkreasi, hari-hari harus punya inovasi. Teman-teman yang di ekonomi kreatif, kuncinya yaitu berkreasi dan berinovasi,” pungkasnya.
- Penulis: admin


