RI Targetkan 44 GW PLTN pada 2060, Nuklir Tak Lagi Jadi Opsi Terakhir
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 29 Mar 2026
- visibility 101
- comment 0 komentar

Kontribusi Energi Nuklir Dalam Bauran Energi Nasional akan Meningkat Signifikan Dari 0,5 Persen Menjadi Lebih Dari 11 Persen Pada 2060
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Pemerintah Indonesia menargetkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dengan kapasitas mencapai 44 Gigawatt (GW) pada 2060 sebagai bagian dari strategi transisi energi menuju target net zero emission (NZE).
Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN), Dadan Kusdiana, mengatakan target tersebut telah masuk dalam perencanaan energi jangka panjang nasional dan menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi sekaligus menekan emisi karbon.
Menurut dia, pengembangan energi nuklir kini bukan lagi sekadar opsi alternatif, melainkan kebutuhan strategis dalam menyeimbangkan bauran energi nasional.
“Target total kapasitas nuklir mencapai 44 Gigawatt pada 2060. Sebanyak 35 Gigawatt akan digunakan untuk pembangkit listrik, sedangkan 9 Gigawatt lainnya untuk mendukung produksi hidrogen nasional yang direncanakan mulai 2045,” kata Dadan dalam Workshop on Small Modular Reactor Deployment Considerations for Indonesia di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Ia menjelaskan, posisi energi nuklir dalam kebijakan nasional juga telah berubah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional.
Dalam regulasi tersebut, nuklir tidak lagi ditempatkan sebagai pilihan terakhir (last resort), tetapi menjadi bagian penting dalam strategi transisi energi yang harus diimplementasikan melalui Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN).
DEN memproyeksikan kontribusi energi nuklir dalam bauran energi nasional akan meningkat signifikan, dari sekitar 0,5 persen menjadi lebih dari 11 persen pada 2060.
Sebagai tahap awal, pemerintah menargetkan PLTN pertama mulai beroperasi pada periode 2032–2034 dengan kapasitas awal sekitar 500 Megawatt (MW).
Pengembangan PLTN ini juga dinilai sejalan dengan asta cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam memperkuat ketahanan energi nasional serta mendorong kemandirian energi berbasis teknologi rendah emisi.
Selain itu, pemanfaatan teknologi Small Modular Reactor (SMR) disebut menjadi salah satu opsi yang dipertimbangkan karena dinilai lebih fleksibel, memiliki tingkat keamanan lebih tinggi, serta membutuhkan investasi awal yang lebih terukur dibandingkan reaktor nuklir konvensional. (*)
- Penulis: admin


