Transaksi Digital Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Ekonomi Global, Penggunaan QRIS Menguat
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 11 Apr 2026
- visibility 124
- comment 0 komentar

Data Bank Indonesia Tunjukkan Transaksi Digital Banking Tumbuh Lebih Dari 20–30 Persen Secara Tahunan
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Transaksi digital di Indonesia tetap tumbuh di tengah gejolak ekonomi global. Peningkatan terlihat pada penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS), terutama saat momentum Lebaran 2026.
Chief Executive Officer ALTO Network, Gretel Griselda mengatakan tren pembayaran domestik masih stabil meski volatilitas global meningkat.
“Di tengah kondisi ekonomi global saat ini yang cenderung memiliki volatilitas tinggi, kami melihat tren pembayaran di Indonesia masih stabil bahkan cenderung menguat,” kata Gretel dalam keterangannya, Sabtu, (11/4/2026).
Ia menyebut ALTO Network saat ini memproses hingga 30 juta transaksi per hari. Pertumbuhan terjadi baik dari sisi jumlah maupun volume.
“Ini dapat menjadi indikasi bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki daya konsumsi yang baik,” ujarnya.
ALTO Network, kata Gretel, mencatat pertumbuhan volume transaksi sebesar 50 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kinerja ini, lanjut dia, menunjukkan sistem pembayaran domestik tetap bergerak di tengah tekanan eksternal.
Data Bank Indonesia menunjukkan transaksi digital banking tumbuh lebih dari 20–30 persen secara tahunan. Pada fase awal adopsi, QRIS bahkan sempat mencatat pertumbuhan di atas 100 persen.
ALTO menyatakan menjaga keandalan sistem dengan capaian Service Level Agreement (SLA) uptime 99,99 persen guna memastikan transaksi tetap berjalan tanpa gangguan berarti.
Volume transaksi QRIS yang diproses ALTO tumbuh 89,56 persen secara tahunan, sementara nilai transaksinya meningkat 94,18 persen, membandingkan Maret 2025 dengan Maret 2026. Lonjakan ini mencerminkan peningkatan penggunaan QRIS di masyarakat.
Di sisi operasional, sebagian institusi keuangan masih menggunakan dashboard terpisah untuk memantau transaksi dan menangani gangguan, yang berpotensi menyebabkan data tidak terpusat dan memperlambat respons.
Untuk itu, ALTO memperkenalkan ASKARA Connect yang mengintegrasikan berbagai proses operasional dalam satu sistem. Perusahaan juga menghadirkan ASKARA Collab untuk memperkuat koordinasi melalui automasi dan intervensi manusia.
Chief Business Officer ALTO Network Rangga Wiseno mengatakan tantangan ke depan tidak hanya pada kecepatan transaksi.
“Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya bagaimana memproses transaksi dengan cepat, tetapi bagaimana memastikan seluruh proses di belakangnya, mulai dari monitoring, koordinasi, hingga penanganan kendala bisa berjalan secara terintegrasi dan efisien,” kata Rangga.
Dari sisi regulator, Deputi Gubernur Bank Indonesia Filianingsih Hendarta mengatakan hingga Kuartal IV 2025 transaksi QRIS tumbuh 139,99 persen secara tahunan.
“Peningkatan tersebut tidak lepas dari meluasnya implementasi QRIS, termasuk QRIS antarnegara,” ujarnya dalam konferensi pers, Rabu, (21/1/2026) lalu.
QRIS antarnegara saat ini telah dapat digunakan di Singapura, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Bank Indonesia juga tengah menjajaki implementasi di China dan Korea Selatan, serta melakukan diskusi dengan India.
Filianingsih menambahkan, lonjakan transaksi juga didorong adopsi fitur QRIS Tap (Tap In-Tap Out), khususnya di sektor transportasi.
“Peningkatan yang signifikan itu karena tadi ada fitur QRIS Tap In-Tap Out,” kata dia.
Pada Kuartal IV 2025, transaksi QRIS Tap mencapai lebih dari 1,44 juta transaksi dengan nilai Rp 28 miliar, atau tumbuh sekitar 267 persen secara kuartalan.
Ke depan, Bank Indonesia menargetkan transaksi QRIS mencapai 17 miliar transaksi dengan dukungan 60 juta pengguna dan 45 juta merchant. (*)
- Penulis: admin


