Wisuda XVII Unmuh Babel: Begini Pesan Cece Dessy hingga Sentilan Mendikdasmen Soal Toga Syndrome
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 2 Jul 2026
- visibility 113
- comment 0 komentar

Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna (Cece Dessy). Foto: Hery_DoorstopID.
Wisuda XVII Unmuh Babel: Begini Pesan Cece Dessy hingga Sentilan Mendikdasmen Soal Toga Syndrome
DOORSTOP.ID, BANGKA TENGAH — Wakil Wali Kota (Wawako) Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mengcapkan selamat dan mendoakan para lulusan Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung (Unmuh Babel) agar diberikan kemudahan dalam mendapatkan pekerjaan dan mampu mewujudkan cita-cita orang tua.
Hal demikian disampaikannya usai menghadiri Wisuda Sarjana Unmuh Babel Angkatan XVII Tahun Akademik 2025/2026 di Auditorium Sofyan Tsauri, Bangka Tengah, Kamis (2/7/2026).
“Semoga para wisudawan dan wisudawati diberikan kemudahan oleh Allah untuk melangkah ke jenjang berikutnya, mendapatkan pekerjaan, dan diberikan masa depan yang cerah,” ujar perempuan yang akrab disapa Cece Dessy tersebut kepada media.
Ia juga berharap momentum kelulusan ini dapat menghadirkan kebahagiaan nyata bagi keluarga para wisudawan.
“Semoga bisa menjadi kebahagiaan untuk mewujudkan cita-cita orang tua dan dirinya sendiri,” tambhanya.
Pada wisuda angkatan ke-17 ini, Unmuh Babel resmi melepas sebanyak 156 orang sarjana baru. Jumlah tersebut melingkupi dua fakultas, dengan rincian 131 lulusan dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) serta 25 lulusan dari Fakultas Teknik dan Sains (FTS).

Acara ini turut dihadiri langsung Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI, Prof. Dr. Abdul Mu’ti. Dalam orasi ilmiahnya, Mendikdasmen memberikan peringatan keras kepada para lulusan agar tidak mengidap toga syndrome, yaitu sebuah kondisi di mana seseorang merasa tugas belajarnya telah usai hanya karena sudah memakai toga dan meraih gelar.
Lebih lanjut, Abdul Mu’ti juga mengingatkan generasi muda, khususnya Generasi Z, untuk membangun mentalitas yang tangguh dalam menghadapi era disrupsi dan hilangnya berbagai jenis pekerjaan konvensional di masa depan.
“Nilai IPK yang tinggi di atas kertas hanyalah modal awal, sementara penentu kesuksesan yang sesungguhnya di masyarakat adalah kekuatan karakter, integritas, dan kemampuan beradaptasi.,” tegasnya. (Hr)
- Penulis: admin


