Tarif Impor Trump Ancam Industri Padat Karya Indonesia, Potensi PHK Mengintai
- account_circle admin
- calendar_month Ming, 6 Apr 2025
- visibility 72
- comment 0 komentar

Tarif Impor Trump Ancam Industri Padat Karya Indonesia, Potensi PHK Mengintai
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenakan tarif impor sebesar 32% terhadap sejumlah produk asal Indonesia mulai 9 April 2025, memicu kekhawatiran serius di dalam negeri. Kebijakan ini dinilai bisa melumpuhkan industri padat karya yang mengandalkan ekspor ke Negeri Paman Sam.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menyebut bahwa bea masuk baru ini berdampak langsung pada sektor tekstil dan furnitur, dua bidang yang menyerap jutaan tenaga kerja di Indonesia.
“Kebijakan tarif Amerika ini menimbulkan risiko yang cukup signifikan bagi Indonesia, karena memukul industri padat karya,” ujar Christiantoko di Jakarta, Minggu (6/4/2025).
Pakaian dan Furnitur Jadi Korban Terbesar
Christiantoko menjelaskan, dari hasil riset lembaganya, tiga kelompok produk paling terpukul adalah pakaian dan aksesorinya, baik rajutan (HS 61) maupun bukan rajutan (HS 62), serta kelompok mebel, furnitur, dan perabotan (HS 94). Ketiganya menyumbang nilai ekspor ke AS sebesar USD6,0 miliar pada 2024 saja.
“Jadi kalau pengiriman ke Amerika Serikat terhambat gara-gara tarif, ekspor komoditas-komoditas tersebut bisa terganggu atau bahkan mungkin tumbang. Sebab lebih dari separuh produk-produk tersebut diserap oleh pasar Amerika,” tegasnya.
Menurut data NEXT Indonesia, selama periode 2020-2024, AS menyerap 60,5% dari total ekspor pakaian rajutan Indonesia, dengan nilai USD12,2 miliar. Untuk pakaian bukan rajutan, daya serap AS mencapai USD10,7 miliar atau 50,5%. Sedangkan furnitur dan perabotan, nilainya mencapai USD7,5 miliar atau 58,2% dari total ekspor global Indonesia di sektor tersebut.
PHK Massal Jadi Ancaman Nyata
Ancaman paling nyata dari kebijakan tarif ini adalah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor tekstil dan produk tekstil yang mempekerjakan lebih dari 3 juta orang di Indonesia.
“Ini masalah serius yang harus dipikirkan oleh pemerintah, apalagi saat ini sedang ramai-ramainya informasi tentang PHK,” tambah Christiantoko.
Selain tekstil dan furnitur, komoditas makanan laut seperti olahan daging, ikan, krustasea (kelompok udang-udangan), dan moluska juga masuk dalam daftar produk yang terimbas. Nilai ekspor Indonesia untuk kelompok ini ke pasar AS mencapai USD4,3 miliar atau 60,2% dari total ekspor selama lima tahun terakhir.
Mesin dan Elektronik Tak Terlalu Terpukul
Christiantoko juga menyebut komoditas mesin dan perlengkapan elektrik (HS 85) sebagai penyumbang ekspor terbesar ke Amerika, dengan nilai USD14,7 miliar selama 2020-2024. Namun, ia menilai sektor ini relatif aman karena hanya 22,6% dari total ekspornya yang diserap pasar Amerika.
“Jadi, walaupun ada pengaruhnya, ya tidak sebesar yang terjadi pada empat komoditas lainnya, yang lebih dari separuhnya diserap pasar Amerika,” jelasnya.
Pemerintah Indonesia kini dituntut bergerak cepat untuk merespons kebijakan dagang agresif dari Washington, guna melindungi sektor yang menyerap jutaan pekerja dan menopang perekonomian nasional.
- Penulis: admin


