Ketika Kambing Hitam Dipilih, Bukan Dicari
- account_circle admin
- calendar_month Jum, 25 Apr 2025
- visibility 111
- comment 0 komentar

Ketika Kambing Hitam Dipilih, Bukan Dicari
Oleh: Yudhistira Jaya Suprana (Wartawan DOORSTOP ID)
Di balik layar dingin kantor ber-AC dan meja kerja berlapis kayu manis, ada panggung tak terlihat di mana peran-peran yang muncul kepermukaan itu dipilih bukan berdasarkan kebenaran, tapi kenyamanan.
Kadang, dalam drama birokrasi dan ego yang dibalut formalitas, seseorang harus jatuh bukan karena ia bersalah, tapi karena lebih mudah menyingkirkannya daripada mengganggu alur perjalanan sang penguasa.
Padahal, namanya tidak ada di struktur penting, hanya pekerja biasa yang datang ketika sudah waktunya bekerja dan pulang ketika waktunya sudah tiba.
Dalam kesehariannya, Ia juga bukan sosok yang banyak bicara, tak pernah mencari panggung. Tapi justru mungkin karena itulah, ia mudah dijadikan sasaran.
Suatu hari, kejadian yang bagi sebagian orang dibilang sepele terjadi. Ada satu colokan di salah satu ruangan kantornya yang tak tercabut.
Apesnya, dia tak memeriksa ruangan tempat colokan itu berada, hanya mematikan lampu, mengunci pintu utama dan langsung pulang. Walhasil, colokan itu pun terus tercolok hingga hari berikutnya.
Di hari berikutnya, grup WhatsApp kantornya pun riuh. Ia yang bertugas sebelumnya pun jadi sasaran tembak. Pagi itu, ia disidang di grup whatsapp tempatnya bekerja.
Ia tersudutkan, klarifikasi yang disampaikannya pun bak angin lalu, tak digubris. Singkat kisah, atasan tertingginya pun mengeluarkan sebuah keputusan dan dia digeser ke tempat yang lain.
Bagi orang-orang yang paham dengan bagaimana sosoknya, di balik apa yang menimpanya itu ada sebuah kejanggalan. Terlalu cepat tudingan dan putusan dilontarkan padanya.
Padahal jika ditelusuri lebih dalam, ia pun tak tahu siapa sosok yang mencolok colokan listrik itu sebelumnya. Lagipula, ia bekerja di ruangan yang lain, tak bekerja di ruangan tempat colokan itu berada.
Yang pasti, kejadian itu tak layak dilabeli sebagai sebuah kelalaian, tapi alat yang memaksanya untuk mengakui atau meng-iyakan hal yang tak diperbuatnya.
Sungguh ironis memang, seonggok pegawai biasa, harus terlempar lantaran sebuah skenario persoalan yang dibuat-buat, dengan muara agar atasan bisa menyingkirkannya, tanpa menoleh ke isu sebenarnya.
Kini, ia diletakkan di tempat yang bukan ia minati, bukan latar belakangnya, juga bukan passionnya. Hari-harinya perlahan berubah. Ia bukan lagi orang yang antusias, bahkan segala proses yang dilaluinya pun ambyar seketika.
Perlahan, semangatnya tampak memudar. Bukan karena ia lemah, tapi mungkin karena cahaya di dalam dirinya dipaksa padam oleh sebuah persoalan, yang bukan dia pelakunya.
Semua tahu dia bukan pelakunya. Tapi tidak ada yang bicara, tak ada yang membela. Karena di dunia ini ya memang seperti itu, siapa pun bisa jadi kambing hitam, asal ia cukup kecil untuk dikorbankan dan jauh dari tahta.
Dan kita pun kembali pada satu istilah lama, ‘Jika Maling Mengakui Perbuatannya, Maka Penjara Akan Penuh’.
Bisa disimpulkan, bahwa di beberapa tempat, penjara itu sudah disiapkan tanpa perlu pengakuan dan penjara itu bukan untuk yang bersalah, tapi untuk yang dianggap mengganggu alur cerita.
Sekian tulisan ini, semoga menginspirasi. Salam lupa cabut colokan.
Disclaimer:
Tulisan ini adalah karya fiksi naratif yang bertujuan sebagai refleksi sosial dan tidak ditujukan untuk menyindir atau menyinggung pihak mana pun, individu maupun institusi. Jika ada kemiripan dengan peristiwa nyata, itu semata-mata kebetulan dan bukan maksud dari penulis.
- Penulis: admin


