Produktif Bertani di Masa Purnabakti
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 29 Sep 2026
- visibility 64
- comment 0 komentar

Produktif Bertani di Masa Purnabakti
Oleh: Sassika, S.T
Mahasiswa Magister Manajemen Universitas Bangka Belitung
Bagi sebagian orang memandang bahwa masa purnabakti identik dengan penurunan produktivitas. Akan tetapi sebagian orang lainnya memandang bahwa masa purnabakti adalah fase hidup baru yang aktif dan produktif melalui konsep slow living yang menghasilkan.
Konsep slow living bagi seorang pensiunan merupakan kemewahan karena memegang kendali penuh atas waktu mereka tanpa intervensi target kerja. Aktivitas bertani seperti mengamati benih yang berkecambah, menanam bibit, memantau air dan nutrisi tanaman, melindungi dan mengendalikan organisme pengganggu tanaman (OPT), melihat daun-daun hijau tumbuh berkembang hingga akhirnya tiba masa panen memberikan ritme harian yang menyenangkan dan mindfullness.
Pensiunan sebagai Aset, Bukan Beban Demografi
Perspektif yang menganggap pensiun sebagai akhir masa produktif seseorang pasca tidak bekerja secara formal, berkurangnya aktivitas ekonomi, dan meningkatnya ketergantungan perlu dikaji kembali. Pensiunan dapat menjadi aset sosial dan ekonomi apabila diberi ruang, pengetahuan, fasilitas, dan kesempatan untuk produktif. Keunggulan bagi seorang pensiunan tidak hanya terletak pada waktu yang tersedia, tetapi juga pengalaman kerja, kedisiplinan, kemampuan mengelola pekerjaan, dan jaringan sosial, hingga pengalaman menghadapi persoalan kehidupan.
Salah satu contoh nyata pensiunan yang sukses membangun usaha dari kegiatan bertani adalah Bapak Ratidjo Hardjo Suwarno, seorang yang awalnya petani jamur dan sukses dengan resto “Jejamuran” di Sleman, Daerah Istimewa Yogjakarta. Pria kelahiran 16 April 1944, mulai membangun usaha pasca pensiun dari perusahaan di tahun 1997 pada usia 54 tahun.
Bisnis kuliner yang dibangun Bapak Ratidjo kini naik kelas, memiliki 250 karyawan, kebun budidaya 2,5 ha, lini produk kalengan, dan rutin dikunjungi 2000-3000 pelanggan per hari. Dengan demikian usaha tersebut tidak hanya menghasilkan produk pangan, akan tetapi membuka lapangan perkerjaan dan menghidupkan ekonomi lokal, serta menjadi destinasi wisata dan kuliner yang di kenal luas saat ini.
Pensiunan sebagai bagian solusi tantangan pangan global
Perubahan iklim dan fungsi lahan, serta meningkatnya pertumbuhan penduduk dan kebutuhan pangan menempatkan sistem pangan global pada tantangan yang semakin kompleks. Pertanian tidak lagi hanya dituntut menghasilkan pangan dalam jumlah besar, tetapi juga menggunakan sumber daya secara lebih efisien dan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Tantangan global tersebut tidak selalu dijawab melalui proyek berskala besar karena perubahan juga dapat dimulai dari rumah, komunitas, dan lingkungan perkotaan melalui kegiatan urban farming.
Lahan Pekarangan potensial dikembangkan menjadi sumber ketahanan pangan. Luas lahan pekarangan di Indonesia mencapai 14,3 juta ha atau sebesar 16,88% dari luas pertanian rakyat (Aditiameri et al. 2021). Pekarangan, teras, rooftop, bahkan sudut rumah dapat menjadi bagian dari ruang produksi pangan. Salah satu teknologi bertani yang menekankan efisiensi penggunaan air dan pupuk serta dapat ditanam dalam kerapatan tanaman tinggi adalah hidroponik.
Teknologi hidroponik memungkinkan tanaman tidak harus ditanam di tanah dan dapat dibudidayakan pada ruang yang relatif terbatas selama masih tersedia cahaya yang cukup untuk kebutuhan fotosintesis tanaman. Sistem hidroponik dirancang untuk mengefisienkan penggunaan air dan nutrisi tanaman karena larutan nutrisi dapat disirkulasikan kembali sehingga kebutuhan air dan nutrisi tanaman jauh lebih rendah dibandingkan dengan sistem pertanian konvensional.
Dengan demikian, krisis pangan global dapat berskala global, tetapi jawabannya dapat dimulai dari satu rumah, satu kebun, dan satu komunitas.
Kolaborasi generasi senior dengan teknologi generasi muda
Dalam masyarakat kita terdapat dua aset yang sering berjalan sendiri-sendiri yaitu pengalaman generasi senior dan kemampuan teknologi generasi muda. Generasi senior memiliki pengalaman, ketekunan, kedisiplinan, jaringan sosial, dan pengetahuan praktis yang diperoleh selama puluhan tahun. Generasi muda tumbuh dalam lingkungan digital, lebih akrab dengan teknologi, media sosial, pemasaran digital, dan kecerdasan buatan.
Apabila kedua kekuatan dua aset dipertemukan dan dimaksimalkan maka akan lahir sesuatu yang lebih besar daripada sekedar kerja sama antar generasi. Bayangkan ketika seorang pensiunan yang mengetahui bagaimana menjaga tanaman, melakukan pemeliharaan, dan memastikan kualitas hasil panen akan tetapi belum memahami pemasaran digital. Disisi lain, generasi muda mahir menggunakan teknologi, tetapi tidak memiliki pengalaman bertani. Pensiunan memiliki kemampuan mengelola produksi, memahami tanaman, memahami pelanggan lokal, dan memiliki pengalaman.
Generasi muda mengembangkan pasar, memahami algoritma, memahami pemasaran digital, dan membawa inovasi. Inilah sinergi sesungguhnya yang mana hasil kebun hanya dikenal tetangga sekitar pensiunan dapat di perkenalkan ke khalayak lebih luas dengan bantuan generasi muda melalui smartphone dan platform media sosial digital. Dari kebun rumah pensiunan tersebut dapat berperan sebagai sumber ekonomi lokal, ruang untuk bergerak, berkarya, bersosialisasi, menghasilkan pangan, dan mempertahankan rutinitas produktif.
- Penulis: admin


