Harga Minyak Melonjak Imbas Ketegangan Selat Hormuz, Rupiah Tertahan di Level Rp17.300
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 30 Apr 2026
- visibility 158
- comment 0 komentar

IDR vs USD (Foto: Bloomberg Technoz)
Harga Minyak Melonjak Imbas Ketegangan Selat Hormuz, Rupiah Tertahan di Level Rp17.300
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah belum mereda. Pada pembukaan perdagangan Kamis (30/4/2026), rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) terpantau stagnan di posisi Rp17.383 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini membayangi pergerakan rupiah setelah sebelumnya sempat terpuruk akibat sentimen global yang memanas.
Kemarin, rupiah offshore ditutup melemah 0,6%. Pemicu utamanya adalah rencana Presiden AS Donald Trump untuk memperluas blokade di Selat Hormuz. Langkah geopolitik ini langsung memicu kekhawatiran pasar dan melambungkan harga komoditas energi.
Pagi ini, harga minyak mentah jenis Brent meroket 6,08% ke level US$118,03 per barel. Lonjakan tajam ini menjadi beban berat bagi mata uang Asia, termasuk rupiah. Meski indeks dolar AS sebenarnya sedang melemah tipis 0,11% ke posisi 98,85, dominasi harga minyak yang tinggi jauh lebih diantisipasi oleh pelaku pasar sebagai risiko besar bagi Indonesia.
Dilema Negara Pengimpor Minyak
Sebagai negara net-importir minyak, Indonesia sangat rentan terhadap kenaikan harga energi dunia. Setiap kenaikan harga minyak mentah secara otomatis menekan persepsi pasar terhadap ketahanan ekonomi domestik.
“Kenaikan harga minyak langsung dibaca pasar sebagai risiko terhadap neraca perdagangan, beban subsidi energi, inflasi, hingga meningkatnya kebutuhan valas,” ujar Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata.
Menurut Josua, beban rupiah kian berat karena bertepatan dengan tingginya permintaan dolar di dalam negeri. Kebutuhan ini muncul dari aktivitas pembayaran impor, repatriasi dividen, hingga antisipasi kenaikan biaya logistik akibat gangguan jalur perdagangan internasional.
“Ada permintaan dolar musiman yang kuat. Selain itu, investor khawatir dampak lonjakan harga minyak akan mengguncang pos subsidi energi dan kondisi fiskal kita,” tambahnya.
Aksi Jual di Pasar Obligasi
Sentimen risk-off atau penghindaran risiko ini tidak hanya memukul nilai tukar, tapi juga merembet ke pasar surat utang. Investor terpantau ramai-ramai melepas obligasi pemerintah, yang memicu kenaikan imbal hasil (yield) di hampir seluruh tenor.
Imbal hasil tenor 1 tahun kini kembali menyentuh level 6% setelah naik 9,9 bps. Sementara itu, tenor acuan 10 tahun juga tidak luput dari aksi jual, merayap naik 4,4 bps ke posisi 6,83%. Pasar Surat Utang Negara (SUN) menjadi kian sensitif di tengah riuh rendah isu blokade Selat Hormuz.
Sebagai catatan, pada perdagangan kemarin, rupiah di pasar spot bahkan sempat terperosok ke level terendah sepanjang masa di angka Rp17.330 per dolar AS pada pukul 11:03 WIB.
Proyeksi ke Depan
Josua menilai rupiah membutuhkan “obat kuat” untuk bisa kembali bangkit secara berkelanjutan. Ia menggarisbawahi pentingnya aliran modal asing yang masuk ke SBN dan SRBI, serta komunikasi kebijakan fiskal yang kredibel dari pemerintah.
“Tanpa kepastian bahwa subsidi energi tetap terkendali dan masuknya devisa hasil ekspor (DHE) ke sistem keuangan domestik, penguatan rupiah hanya akan bersifat teknis dan rawan berbalik arah,” jelasnya.
Untuk hari ini, pergerakan rupiah diprediksi masih akan bergerak dalam rentang terbatas dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.250 hingga Rp17.350 per dolar AS. (*)
- Penulis: admin


