Nganggung dan Tudung Saji: Warisan Makna dan Filosofi Budaya Melayu Bangka
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 6 Sep 2025
- visibility 417
- comment 0 komentar

Nganggung dan Tudung Saji: Warisan Makna dan Filosofi Budaya Melayu Bangka
Oleh Dato’ Akhmad Elvian, DPMP – Sejarawan dan Budayawan, Penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia
Tradisi nganggung dan penggunaan tudung saji bukan sekadar aktivitas membawa dulang berisi hidangan. Keduanya sarat makna, mencerminkan penghormatan, kebersamaan, dan nilai luhur masyarakat Melayu Bangka.
Tudung saji berasal dari gabungan kata tu yang berarti tuah atau keberkahan dan dung atau udung yang berarti penutup. Makna tudung kemudian berkembang sebagai penutup sesuatu yang memiliki nilai baik, agung, dan mulia. Kata saji berakar dari sesajian atau sajian, yang merujuk pada makanan terbaik yang disuguhkan untuk sesuatu yang mulia. Tudung saji dengan demikian melambangkan pelindung bagi hidangan istimewa, sekaligus simbol penghormatan dan kesakralan dalam penyajian makanan.
Tradisi nganggung dalam masyarakat Bangka berakar dari kata ngang yang berarti mengangkat atau mengangkut, dan gung yang berarti agung atau mulia. Istilah ini merujuk pada kegiatan mengangkat sesuatu yang mulia dari panggung, “pang berarti tempat, gung berarti agung“, berupa makanan terbaik untuk dipersembahkan dan disajikan kepada pihak yang dihormati.
Hidangan dalam tradisi nganggung disusun dalam dua dulang utama. Sedulang cerak berisi lauk-pauk lengkap sebagai hidangan utama, sedangkan sedulang ketan berisi beragam kue berbahan dasar ketan. Keduanya mencerminkan kelimpahan, kerukunan, dan semangat berbagi rezeki dalam kebersamaan.
Menghadirkan tudung saji di atas dulang mempertegas nilai penghormatan. Penutup pada makanan tidak hanya menjaga kesopanan, tetapi juga menandakan keikhlasan serta kesungguhan niat berbagi.
Nganggung dengan tudung saji merepresentasikan semangat persaudaraan dan gotong royong. Setiap dulang yang diangkat menuju tempat acara menegaskan keharmonisan masyarakat, penghargaan terhadap tradisi, serta rasa syukur atas berkah yang dimiliki.
- Penulis: admin


