Penjaga Kelenteng Setia Bhakti Bangka Tengah Ternyata Seorang Muslim
- account_circle admin
- calendar_month Kam, 30 Jan 2025
- visibility 150
- comment 0 komentar

Penjaga Kelenteng Setia Bhakti Bangka Tengah Ternyata Seorang Muslim
DOORSTOP.ID, KOBA – Perayaan Tahun Baru Imlek ke-2576 pada tahun 2025 di Kabupaten Bangka Tengah menghadirkan sebuah kisah inspiratif tentang keberagaman dan toleransi antar umat beragama.
Kisah ini datang dari Sulis, seorang Muslim yang telah bekerja sebagai penjaga Kelenteng Setia Bhakti selama lima tahun terakhir.
Sulis menuturkan bahwa profesi yang dijalaninya merupakan bukti nyata dari kuatnya toleransi di daerah yang terkenal dengan julukan Bumi Selawang Segantang itu. Meskipun beragama Islam, Sulis tidak pernah mengalami diskriminasi selama bekerja di kelenteng tersebut.
“Alhamdulillah, selama saya bekerja di sini, tidak pernah ada yang menyinggung atau mempermasalahkan keyakinan saya. Masyarakat Bangka Tengah hidup berdampingan dengan damai, saling menghormati dan menghargai perbedaan,” ujar Sulis kepada wartawan saat ditemui di Kelenteng Setia Bhakti, Selasa (28/1/2025).
Lebih lanjut, Sulis menyampaikan bahwa baginya, pekerjaan yang halal dan dilakukan dengan baik adalah hal yang utama. Ia juga berharap tradisi budaya Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, khususnya di Kabupaten Bangka Tengah, tetap lestari.
“Di mana pun tempatnya, yang penting halal. Saya berharap kebersamaan masyarakat tetap terjaga dan semakin kuat,” tambahnya.
Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong: Simbol Kebersamaan Melayu-Tionghoa
Dalam kesempatan berbeda, salah satu tokoh budaya Kepulauan Bangka Belitung, Ahmadi Sofyan, menjelaskan makna di balik kalimat Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong. Menurutnya, ungkapan tersebut merupakan falsafah kebersamaan antara masyarakat Melayu dan Tionghoa di daerah tersebut.
Ahmadi menuturkan bahwa kalimat ini mulai populer saat perjuangan pembentukan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Selain itu, kalimat ini turut dipopulerkan oleh salah satu tokoh penting lintas generasi dalam perjuangan tersebut, yakni Amung Tjandra (Tjen Hon Liong).
“Kalimat Thong Ngin Fan Ngin Jit Jong digaungkan sebagai simbol persatuan saat perjuangan pemekaran Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari Sumatera Selatan. Setelah terbentuk sebagai provinsi sendiri, kalimat ini kembali dipopulerkan oleh Gubernur pertama, almarhum Hudarni Rani,” jelas Ahmadi, Rabu (29/1/2025).
Lebih lanjut, Ahmadi menegaskan bahwa hubungan harmonis antara masyarakat Melayu dan Tionghoa sudah terjalin sejak lama. Kebersamaan, sinergi, harmonisasi, asimilasi, kolaborasi, dan kerja sama di antara kedua kelompok ini telah menjadi bagian dari kehidupan sosial di Bangka Belitung.
“Meskipun Melayu adalah mayoritas, mereka tidak bersikap mendominasi. Sebaliknya, masyarakat Tionghoa yang minoritas juga sangat menghormati dan menghargai masyarakat Melayu,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana masyarakat Tionghoa turut berpartisipasi dalam perayaan hari besar Islam, seperti membantu jalannya acara agar semakin meriah. Begitu pula sebaliknya, saat perayaan Imlek, masyarakat Melayu datang bersilaturahmi ke rumah-rumah warga Tionghoa.
“Harmoni antara Melayu dan Tionghoa adalah aset paling berharga bagi Kepulauan Bangka Belitung. Ini harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya agar semakin kokoh,” tegasnya.
Ahmadi menambahkan bahwa persatuan jauh lebih bernilai dibandingkan sumber daya alam yang dimiliki oleh Bangka Belitung, seperti timah, thorium, sawit, laut, pantai dan keindahan alamnya.
“Sering saya sampaikan, aset terbesar Bangka Belitung bukanlah timah, thorium, sawit, laut atau pantainya, melainkan harmonisasi antara Melayu dan Tionghoa yang telah mendarah daging,” pungkasnya.
- Penulis: admin


