Penolakan Proklamasi di Bangka: Jejak Kontroversi Po An Tui Pasca Kemerdekaan
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 6 Agu 2025
- visibility 231
- comment 0 komentar

Penolakan Proklamasi di Bangka: Jejak Kontroversi Po An Tui Pasca Kemerdekaan
DOORSTOP.ID, BANGKA — Di balik semangat kemerdekaan yang berkobar usai Proklamasi 17 Agustus 1945, sejarah mencatat adanya penolakan dari sebagian kecil masyarakat di Pulau Bangka terhadap berdirinya Republik Indonesia.
Penolakan ini muncul dari kelompok milisi yang dikenal dengan nama Po An Tui atau Tentara Keamanan Tionghoa (TKT), yang justru berharap kembalinya kekuasaan Belanda di wilayah tersebut.
“Kelompok ini tidak mendukung Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan masih berharap Belanda akan kembali berkuasa di Pulau Bangka,” ungkap Dato’ Akhmad Elvian, sejarawan Bangka Belitung peraih Anugerah Kebudayaan Indonesia.
Menurut Elvian, Po An Tui membentuk barisan pertahanan di Pangkalpinang dan memperluas pengaruhnya ke berbagai wilayah seperti Celuak, Belinyu, Lumut, Toboali, dan Payung. Konflik bersenjata pun tak terhindarkan dengan pasukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat), yang menjadi cikal bakal TNI.
“Kontak fisik bersenjata antara TKR dan TKT berlangsung hingga terbentuknya TRI (Tentara Republik Indonesia), dan berakhir ketika tentara sekutu mendarat di Pulau Bangka pada pertengahan Februari 1946,” jelas Elvian.
Po An Tui, yang resmi berdiri pada 1 Januari 1946, awalnya dibentuk sebagai organisasi pertahanan untuk melindungi warga Tionghoa dari tindakan kekerasan. Namun dalam perjalanannya, kelompok ini justru berpihak pada sekutu dan pasukan NICA (Netherlands Indies Civil Administration) yang hendak mengembalikan kolonialisme di Indonesia.
“Dalam kenyataannya, mereka mendukung aksi tentara sekutu dan hadirnya Belanda kembali,” kutip Elvian dari Gunawan dkk., dalam catatan sejarah tahun 2015.
Anggota Po An Tui di Bangka sebagian besar merupakan mantan pekerja Tambang Timah milik Belanda, yaitu Banka Tin Winning (BTW). Mereka bahkan terlihat melakukan latihan baris-berbaris di sekitar kawasan pasar Pangkalpinang (pasarloodsen), sebagai persiapan menyambut kedatangan pasukan sekutu.
Tak hanya Po An Tui, Elvian mencatat bahwa kelompok lain seperti para vreemde oosterlingen (orang Timur Asing) dan pegawai instansi pemerintah Hindia Belanda di Bangka juga menunjukkan sikap serupa. Meski tidak sekeras Po An Tui, mereka cenderung tidak menerima kemerdekaan, namun memilih bersikap diam.
“Penolakan mereka tidak begitu ditampakkan seperti yang dilakukan Po An Tui atau TKT,” tambahnya.
Dirgahayu Republik Indonesia! 17 Agustus 1945 – 17 Agustus 2025.
- Penulis: admin


