Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dorong Urban Farming KWT Jadi Penyuplai MBG
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 24 Okt 2026
- visibility 70
- comment 0 komentar

Wakil Wali Kota Pangkalpinang Dorong Urban Farming KWT Jadi Penyuplai MBG
DOORSTOP.ID, PANGKALPINANG — Pemerintah Kota Pangkalpinang melirik potensi besar Kelompok Wanita Tani (KWT) untuk diintegrasikan ke dalam program skala nasional. Wakil Wali Kota Pangkalpinang, Dessy Ayutrisna, mendorong produksi pertanian perkotaan atau urban farming dari KWT ini agar nantinya mampu menjadi penyuplai komoditas program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini disampaikan Dessy, saat meninjau langsung kegiatan panen sawi putih keriting di KWT Pandan Sari, Kelurahan Gedung Nasional, Sabtu pagi (24/10/2026).
“Jadi ini sangat membantu ibu-ibu di Kelurahan, dan kita berharap itu mau kita jadikan untuk suplai MBG tapi produksinya belum mencukupi,” ujar Dessy kepada wartawan.
Dessy menjelaskan, komoditas pertanian perkotaan menjadi solusi konkret di tengah keterbatasan lahan perkotaan. Di KWT Pandan Sari sendiri, para anggotanya rutin melakukan panen sebulan sekali dengan volume mencapai 50 kilogram.
“Hari ini kita panen di KWT Pandan Sari, Kelurahan Gedung Nasional. Jadi ibu-ibu ini panen sebulan sekali sawi putih keriting. Sekali panen itu bisa 50 kilo. Hasilnya dibagikan untuk masyarakat sekitar dan ada juga yang dijual, dan pendapatannya dimasukkan kas dan untuk membeli bibit kembali. Dan ini masuk program ketahanan pangan, lkarena kita tidak punya lahan, jadi kita urban farming,” tuturnya.
Untuk memenuhi kebutuhan suplai program berskala besar seperti MBG, Pemkot Pangkalpinang membidik target ekspansi jaringan KWT secara masif. Dessy berharap, seluruh kelurahan di wilayahnya memiliki kelompok tani wanita yang aktif memproduksi pangan.
“Kita kan di Pangkalpinang saat ini ada 23 KWT. Kita berharap nanti 42 Kelurahan bisa ada 42 KWT. Berharap seperti itu,” papar Dessy.
Agar target penyuplai MBG ini bisa terwujud, Dessy langsung menginstruksikan Dinas Pangan dan Pertanian untuk mengevaluasi beberapa kelompok tani yang saat ini terdata kurang aktif agar kapasitas produksi daerah meningkat.
“Ini juga ada beberapa dari 23 KWT itu yang tidak terlalu aktif dan saya minta ke Kepala Dinas Pangan dan Pertanian, agar mendata dan turun langsung penyebab kenapa tidak aktif. Dan diharapkan itu akan terus bertambah,” tegas Dessy.
Ia menambahkan, variasi tanaman di setiap kelurahan akan sangat mendukung variasi menu pangan sehat nantinya. “Di sini sawi putih, tempat lain ada sawi grand, selada, seledri, daun sop, macam-macam,” imbuhnya.

Sementara itu, Plh. Kepala Dinas Pangan dan Pertanian, Mashur Samsuri atau Dimas, menyatakan kesiapan dinasnya untuk melakukan pendataan infrastruktur di lapangan. Menurut Dimas, sarana produksi atau modul hidroponik memang membutuhkan perawatan agar produksi tetap berjalan.
“Bantuan itu sudah tiga tahun yang lalu, sudah berjalan sih. Makanya 23 KWT kita sudah berjalan. Ini cuma ada yang tidak aktif. Satu, belum punya tempat. Yang namanya satu modul itu kan satu tempat ini namanya satu modul. Jadi kalau atapnya rusak tidak bisa jalan,” jelas Dimas.
Lebih lanjut, Dimas juga menguraikan bahwa stimulus awal dari pemerintah telah dikucurkan sejak tiga tahun lalu demi membangun basis ketahanan pangan di tingkat KWT.
“Yang sebelumnya, tiga tahun yang lalu. Jadi satu modul itu sekitar 20 juta. Satu KWT, termasuk bibit, semua,” ungkapnya.
Meski demikian, ia optimis target perluasan KWT ini bisa dicapai melihat pola kemandirian ekonomi yang sudah terbentuk pada kelompok tani yang aktif.
“Awalnya dibantu, terus mereka mandiri. Jadi sudah menghasilkan, mereka jual, uangnya mereka belikan bibit lagi. Rata-rata satu modul. Makanya baru ada 23 tadi. Diharapkan lebih banyak lagi, diharapkan begitu,” tukas Dimas.
- Penulis: admin


