Bahlil Teken Tiga Kerja Sama Energi dengan Korea Selatan, dari Nuklir hingga Penangkapan Karbon
- account_circle admin
- calendar_month Rab, 8 Apr 2026
- visibility 136
- comment 0 komentar

Tiga Kesepakatan itu Meliputi Kerja Sama Energi Bersih, Carbon Capture And Storage (CCS), serta Pengembangan Mineral Kritis
DOORSTOP.ID, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menandatangani tiga nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama sektor energi dan mineral dengan pemerintah Korea Selatan.
Penandatanganan berlangsung di Istana Kepresidenan Blue House, Seoul, Korea Selatan, Rabu, 1 April 2026, dan disaksikan Presiden Prabowo Subianto serta Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung.
Tiga kesepakatan tersebut meliputi kerja sama energi bersih, carbon capture and storage (CCS), serta pengembangan mineral kritis. Kerja sama dilakukan antara Kementerian ESDM dengan Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Korea Selatan serta Kementerian Perdagangan, Industri, dan Sumber Daya Korea Selatan.
Bahlil mengatakan kerja sama ini penting untuk memperkuat ketahanan energi kedua negara di tengah potensi ketidakpastian global.
“Kerja sama ini penting bagi kedua negara, terutama untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi akibat dinamika geopolitik global,” kata Bahlil dalam keterangan resminya.
Dalam kerja sama energi bersih, kedua negara sepakat mendorong pengembangan teknologi, peningkatan investasi, penguatan perdagangan, serta pengembangan sumber daya manusia.
Ruang lingkupnya mencakup energi terbarukan, energi nuklir, hidrogen, penyimpanan energi, efisiensi energi, industri baterai, bioenergi, pengolahan sampah menjadi energi, jaringan listrik pintar, hingga pengembangan sistem energi untuk pulau mandiri.
Adapun pada sektor CCS, Indonesia dan Korea Selatan akan bekerja sama dalam pengembangan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, termasuk peluang proyek CCS lintas negara serta kegiatan riset industri.
Sementara pada sektor mineral kritis, kerja sama difokuskan pada survei geosains, pengolahan dan pemurnian mineral, daur ulang, penerapan standar lingkungan, rehabilitasi dan reklamasi tambang, serta penguatan aspek keberlanjutan industri mineral.
Bahlil menyebut kesepakatan ini juga membuka peluang peningkatan investasi serta kolaborasi antara sektor pemerintah dan swasta kedua negara.
Presiden Prabowo Subianto dalam pertemuan tersebut menyampaikan komitmen Indonesia untuk meningkatkan hubungan bilateral dengan Korea Selatan menjadi kemitraan strategis yang lebih komprehensif.
Ia juga mendorong para menteri dari kedua negara segera menindaklanjuti kerja sama yang telah disepakati.
“Kami mendorong para menteri untuk segera merealisasikan peningkatan kerja sama ini,” kata Prabowo.
Presiden Lee Jae Myung juga menyampaikan komitmen Korea Selatan untuk memperkuat hubungan strategis dengan Indonesia.
Menurut dia, kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo menjadi momentum penting untuk meningkatkan kemitraan bilateral kedua negara menjadi lebih strategis dan komprehensif. (*)
- Penulis: admin


