Pembiayaan Paylater Tembus Rp8,22 Triliun, Tumbuh 39,3 Persen pada Maret 2025
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 13 Mei 2025
- visibility 83
- comment 0 komentar

Pembiayaan Paylater Tembus Rp8,22 Triliun, Tumbuh 39,3 Persen pada Maret 2025
DOORSTOP.ID, JAKARTA — Pembiayaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau lebih dikenal dengan paylater terus menunjukkan pertumbuhan pesat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, pada Maret 2025, pembiayaan paylater oleh perusahaan pembiayaan mencapai Rp8,22 triliun, tumbuh 39,3 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Meski pertumbuhan ini tinggi, laju kenaikannya melambat dibandingkan Februari 2025 yang tercatat 59,1 persen yoy.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman, menjelaskan bahwa kondisi ini masih diiringi dengan perbaikan kualitas pembiayaan.
“Tingkat NPF (Non-Performing Financing) tercatat sebesar 3,48 persen, membaik dibandingkan Februari 2025 yang berada di angka 3,68 persen,” ujar Agusman, dikutip dari Antara, Selasa (13/5/2025).
Pada sektor pinjaman daring (fintech peer-to-peer lending), outstanding pembiayaan mencapai Rp80,02 triliun atau tumbuh 28,72 persen yoy. Namun, pertumbuhan ini juga lebih rendah dibandingkan Februari 2025 yang mencapai 31,06 persen yoy.
Agusman menyebutkan, meskipun pertumbuhannya melambat, risiko kredit macet tetap terkendali. “Tingkat TWP90 berada di level 2,77 persen, sedikit membaik dibandingkan Februari yang tercatat 2,78 persen,” ujarnya.
Sementara itu, pembiayaan oleh perusahaan modal ventura mengalami kontraksi 0,34 persen yoy pada Maret 2025. Meski negatif, angka ini lebih baik dari Februari 2025 yang terkontraksi 0,93 persen yoy. Nilai pembiayaannya pun meningkat menjadi Rp16,73 triliun, dari Rp16,34 triliun pada Februari.
Di sisi lain, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan tumbuh 4,6 persen yoy menjadi Rp510,97 triliun pada Maret 2025. Namun, pertumbuhan ini masih lebih rendah dibandingkan Februari yang sebesar 5,92 persen yoy.
Agusman menambahkan, pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan pembiayaan modal kerja yang naik 11,07 persen yoy. Kinerja ini juga ditopang oleh perbaikan profil risiko.
“Rasio NPF gross turun menjadi 2,71 persen dari 2,87 persen pada Februari, sementara NPF nett juga menurun dari 0,92 persen menjadi 0,80 persen,” ungkapnya.
Namun, OJK mencatat bahwa gearing ratio atau rasio utang terhadap modal perusahaan pembiayaan meningkat menjadi 2,26 kali, dibandingkan Februari yang sebesar 2,20 kali. Meskipun naik, angka tersebut masih jauh di bawah batas maksimum yang ditetapkan sebesar 10 kali.
Lebih lanjut, Agusman mengungkapkan perkembangan pengawasan terhadap koperasi sektor jasa keuangan (open loop) yang kini berada di bawah kewenangan OJK.
“Sebanyak 21 koperasi telah memiliki total aset Rp335,57 miliar, dengan pembiayaan yang disalurkan mencapai Rp210,71 miliar,” katanya.
“Saat ini, satu dari tiga koperasi open loop yang belum berizin di OJK sedang dalam proses pengajuan izin usaha sebagai LJK (Lembaga Jasa Keuangan),” pungkasnya.
- Penulis: admin


