Bangka Belitung: Kilau Timah di Atas Luka Rakyat
- account_circle admin
- calendar_month Sel, 24 Jun 2025
- visibility 117
- comment 0 komentar

Kilau Timah di Atas Luka Rakyat
Oleh: Putri Anggun (Mahasiswi IAIN SAS Bangka Belitung)
Di ujung barat Indonesia, diapit gelombang dan langit tropis, berdirilah Bangka Belitung, sebuah negeri kecil yang menyimpan timah sebesar gunung harapan.
Tanahnya ibarat peti harta karun yang terus digali, menghasilkan logam mulia yang menjadi andalan industri dunia. Timah dari pulau ini, mengalir ke sirkuit-sirkuit elektronik, ke solder-solder pabrik, menjadi denyut teknologi global.
Namun di balik kilau logam itu, terdapat sebuah ironi yang mencubit nurani, rakyat yang hidup di tanah kaya ini justru tergolong miskin.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Bangka Belitung masih masuk dalam deretan 33 provinsi termiskin di Indonesia. Angka ini bukan sekadar statistik, tapi potret sehari-hari.
Pengeluaran per kapita yang rendah, akses pendidikan dan kesehatan yang timpang, serta infrastruktur yang tertinggal di banyak wilayah pelosok.
Negeri ini layaknya sebuah pohon rindang, yang buahnya dipetik orang lain. Masyarakatnya hanya menerima remah-remah dari kekayaan tambang, sementara tanah tempat mereka berpijak semakin terkikis dan tercemar.
Video viral di TikTok beberapa waktu lalu memperlihatkan wajah asli “surga timah” itu. Kolong-kolong bekas tambang yang menganga seperti luka terbuka, air yang berubah warna menjadi merah pekat, dan tanah yang tak lagi layak tanam.
Bahkan hutan mangrove yang dulu menjadi benteng terakhir ekosistem pesisir pun ikut tumbang.
UNESCO mencatat sekitar 240 ribu hektar mangrove rusak akibat aktivitas pertambangan, meninggalkan warisan kerusakan yang mengancam sektor pertanian, perikanan dan pariwisata. Negeri ini sedang kehabisan ruang hijau untuk bernapas.
Lebih menyedihkan lagi, banyak warga yang terpaksa menggantungkan hidup pada tambang ilegal atau semi-legal.
Mereka bukan penambang karena serakah, tapi karena terdesak. Setiap hari mereka bekerja dengan alat seadanya, tanpa jaminan keselamatan, menghirup debu tambang dan menantang maut demi sesuap nasi.
Pendapatan tak menentu, risiko tinggi, dan lingkungan yang mematikan, itulah realitas getir mereka. Mereka terdampak paling parah, tapi belum tentu menikmati hasilnya.
Sebagai mahasiswa, saya melihat ini bukan sekadar krisis ekonomi, melainkan krisis moral dan keberpihakan. Kita terlalu lama memandang tambang sebagai anugerah, tanpa menyadari bahwa kekayaan yang tidak dikelola dengan adil bisa menjadi kutukan.
Tapi belum terlambat. Bangka Belitung memiliki potensi lain yang selama ini terpinggirkan, yakni lada yang harum melegenda, laut yang kaya ikan, kerajinan rakyat, serta sektor UMKM yang bisa tumbuh jika diberi nafas dan perhatian.
Inilah saatnya kita membalik arah, dari eksploitasi menuju regenerasi, dari ketergantungan menjadi kemandirian. Pemerintah daerah harus mulai berani menyusun ulang prioritas.
Diversifikasi ekonomi bukan sekadar jargon, tapi langkah nyata untuk mengurangi ketergantungan pada tambang.
Kampus harus hadir, tidak hanya sebagai ruang berpikir, tapi sebagai laboratorium perubahan melalui riset terapan, teknologi reklamasi, edukasi masyarakat dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Kami, generasi muda, tidak ingin mewarisi tanah yang rusak. Kami ingin menjadi bagian dari pemulihannya.
Karena kami percaya, masa depan Bangka Belitung tidak ditentukan oleh seberapa dalam kita menggali, tetapi oleh seberapa bijak kita menjaga dan mengelola.
Bangka Belitung hari ini adalah potret nyata dari kutukan sumber daya, tapi kutukan bukanlah akhir cerita.
Ia bisa diubah menjadi berkah, jika ada keberanian untuk berbenah, keberpihakan pada rakyat dan kesadaran kolektif untuk memuliakan bumi tempat kita berpijak.
Semoga opini ini tak hanya menjadi suara, tetapi juga menjadi getaran di dada para pemimpin, pengusaha dan pendidik.
Karena negeri ini tak boleh lagi diukur dari kilau timah semata, melainkan dari senyum rakyatnya yang kembali pulih dan merdeka.
- Penulis: admin


