Media Massa dalam Jeratan AI: Antara Harapan dan Ancaman
- account_circle admin
- calendar_month Sab, 11 Okt 2025
- visibility 139
- comment 0 komentar

Penulis Opini: Agus Sudibyo, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat
Opini: Media Massa dalam Jeratan AI: Antara Harapan dan Ancaman
Oleh: Agus Sudibyo, Ketua Bidang Pendidikan PWI Pusat
OPINI, DOORSTOP.ID — Kehadiran AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Claude, hingga Midjourney mengubah peta industri konten digital secara drastis.
Media massa yang tengah terhuyung akibat disrupsi teknologi tiba-tiba menemukan “penyelamat” baru.
Dalam hitungan menit, teks, gambar, hingga video bisa diproduksi dengan kualitas narasi yang tak kalah dari hasil kerja manusia.
Namun, berkah itu juga dinikmati publik luas. Hasilnya, ruang digital dipenuhi banjir konten dengan kualitas beragam, mulai dari jurnalistik profesional hingga spam belaka.
Lonjakan ini justru menimbulkan pertanyaan: bagaimana nasib monetisasi konten jurnalistik ketika masyarakat sudah bisa memperoleh jawaban lengkap hanya dari beberapa prompt AI?
Algoritma Baru: Menjaga Orisinalitas Konten
Platform besar seperti Google dan Meta pun bergerak cepat. Google memperketat algoritma pencarian dengan menerapkan standar E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness) demi memastikan konten orisinal berkualitas tetap menduduki peringkat teratas.
Sementara itu, Meta mengedepankan prinsip Meaningful, Informative, dan Accurate agar interaksi sosial di media sosial tidak tercemar oleh konten sintetis murahan.
Sekilas, langkah ini terlihat positif. Media massa seperti mendapat jalan kembali menuju khittah sebagai penyedia informasi terpercaya.
Sayangnya, persoalan monetisasi tetap menggantung. Sistem periklanan digital masih lebih mengutamakan skala distribusi, klik, dan impresi ketimbang nilai kedalaman sebuah konten.
Ketidakselarasan Insentif
Di sinilah letak masalah terbesar: incentive misalignment. Konten jurnalistik berkualitas tinggi yang dihasilkan media menjadi “nutrisi bergizi” untuk melatih model AI.
Namun, keuntungan finansial dari produk AI itu tidak pernah kembali ke pembuat konten, melainkan terkonsentrasi di tangan pengembang AI.
Pada era link economy, trafik mengalir ke media melalui klik dari mesin pencari atau media sosial. Kini, di era answer economy, jawaban langsung sudah diberikan oleh AI overview atau chatbot.
Hasilnya, pembaca semakin jarang mengunjungi laman media asli. Media pun menanggung beban produksi, sementara platform AI menuai manfaat ekonominya.
Media Massa Harus Mandiri
Untuk keluar dari jeratan ini, ada dua hal penting yang harus ditempuh:
1. Memperkuat Regulasi Publisher Right
Media perlu mendorong regulasi agar pengembang AI wajib memberikan kompensasi proporsional atas konten jurnalistik yang mereka gunakan untuk melatih model AI.
2. Membangun Kemandirian Distribusi
Ketergantungan pada Google, Facebook, atau Instagram harus dikurangi. Media harus kembali fokus pada direct traffic dan direct sales dengan mengelola audiens serta mitra bisnis secara mandiri. Fragmentasi distribusi konten melalui chatbot, agregator berbasis AI, dan video pendek menuntut media untuk lebih lincah beradaptasi.
AI ibarat pisau bermata dua. Ia bisa menjadi sahabat jika dimanfaatkan secara strategis, tetapi juga musuh jika tidak ada perlindungan yang jelas bagi media massa.
Tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana industri pers mampu menjaga orisinalitas, memperjuangkan hak ekonominya, dan tetap relevan di tengah arus deras teknologi.
- Penulis: admin


